Kota Pariaman – Bencana belum sepenuhnya pergi dari Sumatera Barat. Jejak banjir dan longsor masih membekas di jalan-jalan terputus, jembatan runtuh, dan denyut ekonomi yang sempat terhenti. Dalam situasi genting itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian turun langsung memimpin rapat koordinasi khusus, menekan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana hidrometeorologi.
Rapat digelar di Auditorium Gubernur Sumatera Barat, Padang Selasa (13/1/2026), dan dihadiri para kepala daerah yang daerahnya terdampak, termasuk Wali Kota Pariaman Yota Balad.
Forum ini menjadi titik krusial. Menentukan apakah pemulihan hanya berhenti pada wacana, atau benar-benar bergerak di lapangan.
Di hadapan gubernur, kepala daerah, BNPB, dan jajaran kementerian, Tito Karnavian berbicara lugas. Ia menegaskan, pemulihan tidak boleh berbasis asumsi, tetapi data dan peta masalah yang presisi.
“Kita harus mulai dari problem. Lihat petanya. Semakin akurat kita memetakan kerusakan, semakin tepat strategi yang kita ambil,” tegas Tito.
Data pemerintah pusat mencatat, 16 dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat terdampak langsung bencana. Meski demikian, Mendagri menilai roda pemerintahan daerah mulai kembali bergerak berkat koordinasi intensif dan pemantauan melalui dasbor kebencanaan nasional.
Namun, Tito mengingatkan, fase darurat bukan akhir. Detail kerusakan harus dibuka seterang-terangnya, terutama dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
“Kami butuh titik-titik kerusakan yang rinci. Supaya bisa langsung kami dorong ke Kementerian PU, Kementerian Kesehatan, dan kementerian teknis lainnya. Negara harus bergerak serentak,” ujarnya.
Sorotan kemudian mengarah ke Kota Pariaman. Wali Kota Yota Balad memaparkan bahwa langkah cepat Pemko pascabencana mulai menunjukkan hasil. Aktivitas warga perlahan kembali, pasar hidup, transportasi berjalan, dan denyut kota mulai pulih.
“Kami laporkan ke Bapak Mendagri, kondisi Kota Pariaman sudah berangsur normal. Bantuan telah kami salurkan kepada korban bencana, pedagang, dan pelaku usaha yang terdampak,” ujar Yota Balad.
Namun ia menegaskan, pekerjaan belum selesai. Pariaman kini berada di fase paling krusial. Transisi dari tanggap darurat menuju rekonstruksi permanen.
“Fokus kami sekarang membangun kembali secara berkelanjutan. R3P Kota Pariaman sudah kami serahkan. Kami ingin pemulihan ini bukan tambal sulam, tapi bangkit lebih kuat,” tegasnya.
Rapat strategis tersebut juga dihadiri Kepala BNPB Suharyanto, Wamen PPPA Veronica Tan, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, Wakil Gubernur Vasko Ruseimy, serta unsur Forkopimda Sumbar.
Di tengah kehancuran yang ditinggalkan bencana, satu pesan menguat dari rapat ini. Pemulihan Sumatera Barat tidak boleh berjalan lambat, tidak boleh parsial, dan tidak boleh kehilangan arah. Rakyat menunggu bukti. Bukan sekadar rapat, tetapi kerja nyata negara di lapangan.(mak).






