Jakarta – Kelompok Hizbullah di Lebanon dilaporkan semakin mengandalkan drone berkategori kamikaze sebagai senjata utama dalam serangan ke wilayah Israel.
Salah satu yang paling menonjol adalah penggunaan drone berbasis serat optik yang berbiaya rendah namun memiliki daya hancur tinggi, sehingga menjadi tantangan serius bagi militer Israel di wilayah Lebanon selatan.
Perkembangan senjata ini memaksa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk mengubah strategi tempur mereka dalam menghadapi ancaman baru yang dinilai semakin berbahaya. IDF mengonfirmasi bahwa dalam waktu kurang dari dua pekan, dua prajurit dan seorang kontraktor sipil tewas akibat serangan drone tersebut. Selain itu, jumlah korban luka dilaporkan lebih banyak.
Peneliti senior Institut Studi Keamanan Nasional Israel (INSS), Orna Mizrahi, menyebutkan bahwa perangkat ini sangat sederhana namun efektif. “Senjata ini kecil, murah, dan mudah didapat, bahkan bisa disamakan seperti mainan anak-anak,” ujarnya kepada AFP, dikutip Sabtu (2/5/2026).
Penggunaan drone oleh Hizbullah mencerminkan pola perang asimetris yang mereka terapkan. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok tersebut lebih sering memanfaatkan drone dibandingkan serangan roket yang sebelumnya lebih dominan sejak konflik terbaru pecah pada 2 Maret.
Situasi ini menjadi masalah bagi Israel karena sistem pertahanan yang ada dinilai belum siap menghadapi jenis ancaman berteknologi rendah tersebut. Berbeda dengan drone konvensional yang mengandalkan GPS atau sinyal radio dan bisa diganggu, drone kamikaze ini dikendalikan melalui kabel serat optik yang terhubung langsung ke lokasi peluncuran hingga puluhan kilometer.
Operator mengendalikan drone dengan sistem pandangan orang pertama (FPV) melalui layar atau kacamata khusus, yang relatif mudah dipelajari dan tidak memerlukan pelatihan rumit.
Menurut peneliti INSS lainnya, Arie Aviram, keunggulan utama drone ini adalah tidak menggunakan sinyal radio, sehingga tidak dapat dideteksi atau diganggu oleh sistem perang elektronik.
“Karena tidak memancarkan atau menerima sinyal radio, perangkat ini tidak bisa dilacak oleh intelijen elektronik maupun diintervensi melalui sistem peperangan elektronik,” jelasnya.
Kecepatan dan akurasi serangan drone tersebut juga membuatnya mampu menimbulkan kerusakan signifikan, sementara minimnya jejak elektronik membuat militer Israel lebih bergantung pada radar dan pengamatan visual yang sering kali terlambat merespons.
Para ahli memperkirakan biaya pembuatan drone serat optik ini hanya berkisar dari ratusan hingga sekitar 4.000 dolar AS, tergantung kualitas komponennya.
Sementara itu, juru bicara Hizbullah, Youssef Al Zein, menyatakan bahwa drone tersebut dirakit secara lokal di Lebanon. “Kami memahami keunggulan musuh, tetapi kami juga memanfaatkan kelemahan mereka,” katanya.
Bagi Israel, penggunaan sistem pertahanan udara mahal seperti rudal atau jet tempur untuk menghadapi drone murah dinilai tidak efisien dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.(des*)







