Bukan Sekadar Tanah Wakaf, Muhammadiyah Padang Pariaman Terus Bangun Basis Gerakan Keumatan

Padang Pariaman – Wakaf lahan seluas 4.200 meter persegi di Nagari Campago Barat, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman, Sumatera Barat kini diarahkan menjadi mesin baru gerakan keumatan Muhammadiyah.

Bukan sekadar tanah yang disimpan sebagai aset, lahan wakaf dari Bahari dan Bakhtiar Ali itu diproyeksikan menjadi pusat dakwah, pendidikan, masjid dan pemberdayaan masyarakat. Momentum pengembangannya akan dikobarkan lewat Tablig Akbar pada 31 Oktober 2026.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Padang Pariaman, Dasril, S.Hi kepada awak media ini Kamis (8/19/2026) siang menyebut wakaf tersebut sebagai amanah yang harus menghasilkan manfaat nyata bagi umat.

Ia menyebut bahwa di atas lahan di Korong Bayua itu telah berdiri satu masjid, bangunan ada empat lokal dua lantai, ruang ustaz dan ruang mudir. Infrastruktur tersebut menjadi modal awal untuk memperluas aktivitas pendidikan dan dakwah Muhammadiyah.

“Alhamdulillah wa syukurillah, Muhammadiyah Padang Pariaman mendapat rahmat dari Allah melalui wakaf tanah seluas 4.200 meter di Campago Barat. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya,” ujar Dasril.

Pesan yang tersirat dan jelas adalah bahwa aset wakaf tidak boleh berhenti sebagai tanah dan bangunan. Tetapi harus hidup melalui kegiatan yang memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Gerakan tersebut akan diperkuat dengan penghimpunan zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf) melalui tradisi badoncek.

Kearifan lokal Minangkabau yang dikenal kuat di Pariaman dan Padang Pariaman itu akan dihidupkan sebagai kekuatan gotong royong umat. Mengumpulkan dana secara sukarela dan bersama-sama untuk menopang masjid, sekolah serta kegiatan sosial keagamaan.

Ketua MPW Muhammadiyah Dr. Amirsyah Tambunan yang juga Sekjen MUI Pusat mengatakan, momentum silaturahmi dan Tablig Akbar tersebut menjadi ruang untuk membangkitkan kembali semangat berbagi.

Gerakan badoncek bukan sekadar tradisi, melainkan dapat menjadi energi sosial yang mempertemukan nilai agama dengan budaya lokal untuk membangun kemandirian dan kemaslahatan umat.

Semangat itu merujuk pada pesan Surah Ali Imran ayat 92 tentang keutamaan menginfakkan sebagian harta yang dicintai. Amirsyah menegaskan wakaf memiliki dimensi jauh lebih panjang daripada sekadar pemberian aset.

“Pada hakikatnya harta umat Islam milik Allah, lalu diwakafkan untuk memuliakan agama Allah melalui wakaf dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umat dan bangsa,” tegasnya dikutip pada laman https://panjimas.id.

Kini tantangannya adalah membuat wakaf tersebut terus bergerak dan menghasilkan manfaat. Tablig Akbar 31 Oktober mendatang akan menjadi salah satu pintu untuk mengonsolidasikan kekuatan umat melalui Ziswaf dan badoncek.

Dengan masjid dan fasilitas pendidikan yang sudah berdiri, Muhammadiyah Padang Pariaman memiliki fondasi untuk menjadikan 4.200 meter persegi tanah wakaf itu bukan sekadar aset.

Tetapi pusat tumbuhnya gerakan keumatan yang manfaatnya terus mengalir dari generasi ke generasi.(mak)