Padang Pariaman – Ketika banyak daerah memilih menahan napas di tengah badai efisiensi anggaran, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis justru mengambil langkah sebaliknya. Menekan pedal gas. Enam jembatan diresmikan serentak, Jumat (10/04/2026), seolah menjadi pernyataan terbuka. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti membangun.
Di Nagari Gasan Gadang, Jembatan Kampuang Tanjuang berdiri seperti saksi bisu dari penantian panjang. Bertahun-tahun akses itu terputus, memaksa warga memutar jauh, menunda aktivitas, bahkan menahan laju ekonomi.
Kini, jembatan itu kembali menghubungkan yang sempat tercerai. Namun yang dibangkitkan bukan hanya satu titik.
Lima jembatan lain ikut dihidupkan. Padang Maduang dan Koto Sungai Pingai, Tanjuang Dama, Kampuang Tangah, hingga Kubu. Semuanya adalah urat nadi yang pernah lumpuh akibat bencana. Dan kini dipaksa kembali berdetak.
Anggaran hampir Rp4 miliar mungkin terlihat kecil di atas kertas. Tapi di lapangan, ia menjelma menjadi akses bagi petani, jalur bagi anak sekolah, dan harapan bagi masyarakat yang lama terisolasi. Infrastruktur ini bukan proyek. Ini pemulihan kehidupan.
Bupati John Kenedy Azis tak menutupi tekanan yang ada. Pemotongan transfer pusat, keterbatasan fiskal, hingga tuntutan pembangunan yang terus meningkat menjadi kenyataan yang harus dihadapi.
Namun ia memilih satu sikap. Kebutuhan dasar rakyat tidak boleh ditunda. “Jembatan ini bukan sekadar beton,” tegasnya.
Ia menyebutnya sebagai penghubung ekonomi, sosial, bahkan masa depan masyarakat. Pernyataan itu bukan retorika. Melainkan refleksi dari kondisi nyata yang selama ini dirasakan warga.
Langkah besar juga disiapkan. Sekitar Rp90 miliar DAU tahun 2026 dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di 17 kecamatan. Di saat daerah lain mulai mengerem, Padang Pariaman justru memperluas pijakan.
Kepala Dinas PUPR, El Abdes Marsyam, mengungkap fakta yang tak bisa diabaikan: ada daerah yang bahkan tak memiliki anggaran pembangunan sama sekali.
Di tengah situasi itu, Padang Pariaman tetap hadir. Pernyataan ini terdengar seperti peringatan sekaligus kebanggaan.
Bagi masyarakat, dampaknya tak perlu dijelaskan panjang. Hasan Basri Dt Rang Kayo menyebut Jembatan Kampung Tanjung sebagai “penghubung kehidupan”. Ini sebuah kalimat sederhana yang merangkum segalanya setelah enam tahun terputus dari akses utama.
Peresmian ditandai dengan pita yang digunting. Tapi yang benar-benar terpotong hari itu adalah keterisolasian yang menahun. Dan yang dibangun kembali bukan hanya jembatan. Melainkan kepercayaan bahwa pemerintah masih berpihak, bahkan saat keadaan paling sulit.(bay).






