Solok – Setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, yang menjadi simbol perjuangan emansipasi perempuan sekaligus pentingnya pendidikan bagi kaum wanita.
Semangat Kartini tersebut terus relevan hingga saat ini, hadir dalam sosok-sosok perempuan masa kini yang tetap berjuang melampaui berbagai keterbatasan hidup.
Salah satunya tercermin dalam diri Fadhlina Azizah, yang akrab disapa Fifin. Perempuan kelahiran 11 September 2002 asal Kota Solok ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal untuk bangkit dan menjadi lebih kuat.
Lahir prematur dan menghadapi tantangan sejak awal
Sejak dalam kandungan, Fifin sudah harus menghadapi kondisi sulit. Ia lahir secara prematur pada usia kehamilan tujuh bulan. Bahkan saat masih bayi, dokter pernah memprediksi bahwa harapan hidupnya sangat kecil.
Namun kenyataan berkata lain. Fifin justru tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, meski harus melewati berbagai rintangan sejak kecil.
Hingga usia lima tahun, ia belum dapat berjalan seperti anak-anak seusianya. Setelah dilakukan pemeriksaan di Jakarta, ia didiagnosis mengalami gangguan saraf motorik dan harus menjalani terapi intensif.
Momen penuh haru terjadi ketika ia akhirnya bisa berjalan di usia enam tahun, bertepatan dengan hari wisudanya di taman kanak-kanak.
Mengalami perundungan sejak kecil
Saat memasuki bangku sekolah dasar, Fifin mulai merasakan perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan sekitarnya. Ia kerap menjadi bahan ejekan teman-temannya karena kondisi fisiknya.
Bahkan, pengalaman menyakitkan juga datang dari salah satu guru di kelas II SD yang menyarankan agar ia bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Meski sempat terluka, dukungan kuat dari ibunya menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Fifin. Ia tetap melanjutkan pendidikan di sekolah umum dan berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu seperti anak lainnya.
“Saya selalu diyakinkan oleh Bunda bahwa saya sama seperti anak-anak lain dan pasti bisa,” ujarnya saat ditemui di sela aktivitas mengajarnya di Kota Solok.
Namun pada kelas dua SD, ia harus mengulang kelas. Bukan karena tidak memahami pelajaran, melainkan karena keterbatasannya dalam menulis yang cukup lambat.
Ia juga mengalami kelemahan pada sisi tubuh sebelah kanan. Meski demikian, setelah menjalani operasi penanganan otot saat kelas tiga SD, kondisinya mulai membaik dan ia bisa berjalan lebih baik.
Selama masa sekolah dasar, ia juga kerap membutuhkan pendampingan di sekolah karena keterbatasan fisiknya.
Masa sulit di SMP dan SMA
Saat memasuki jenjang SMP, kondisi Fifin mulai membaik. Lingkungan yang lebih menerima membuat rasa percaya dirinya perlahan tumbuh kembali.
Namun saat memasuki SMA di sebuah pesantren, ia kembali menghadapi masa sulit. Perundungan kembali terjadi, bahkan hampir setiap hari. Perlakuan tersebut sering dianggap sebagai candaan oleh pelaku, tetapi justru membuat Fifin semakin tertekan.
Beban psikologis yang berat membuatnya sempat menjalani penanganan dari psikiater. Ia bahkan pernah berada di titik terendah hingga muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.
Karena tekanan yang tidak lagi sanggup ia hadapi, Fifin akhirnya memutuskan berhenti sekolah saat kelas dua SMA. Selama satu tahun, ia menjalani masa-masa sulit dan menjadi pribadi yang tertutup.
Namun dari keterpurukan itu, perlahan ia mulai bangkit kembali.
Bangkit dan menjadi pengajar
Setelah satu tahun berhenti sekolah, Fifin kembali melanjutkan pendidikan di SMK Kesehatan Kota Solok. Di tempat ini, ia menemukan lingkungan yang lebih mendukung, dengan guru dan teman-teman yang memberikan semangat baru.
Perubahan tersebut membuatnya kembali percaya diri. Ia pun mulai menata hidupnya dengan lebih positif.
Pada tahun 2023, Fifin memberanikan diri mendirikan sebuah bimbingan belajar bernama Miftahul Ulum di rumahnya. Awalnya hanya ada tiga anak di sekitar lingkungan rumah yang menjadi muridnya.
Namun seiring waktu, jumlah peserta didik terus bertambah hingga lebih dari 25 anak, termasuk beberapa anak dengan kebutuhan khusus.
Tujuan utamanya sederhana, yaitu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan tanpa tekanan.
“Saya ingin anak-anak belajar dengan senang, tidak merasa takut seperti pengalaman yang pernah saya alami dulu,” katanya.
Salah satu kebahagiaan terbesar baginya adalah ketika melihat murid yang awalnya tidak bisa membaca, akhirnya mampu membaca hanya dalam waktu sekitar tiga bulan.
Aktif mengajar dan berbagi inspirasi
Selain mengelola bimbingan belajar, Fifin juga aktif mengajar tahfidz dan tahsin di SMK Kesehatan tempat ia pernah bersekolah. Aktivitasnya cukup padat, mulai dari mengajar pagi hingga sore hari.
Ia juga aktif membagikan konten edukasi dan motivasi melalui akun media sosialnya, dengan tujuan memberikan inspirasi bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berkarya.
Saat ini, ia juga sedang melanjutkan pendidikan di sekolah farmasi di Bukittinggi, menunjukkan semangat belajarnya yang tidak pernah surut.
Fifin meyakini bahwa setiap orang memiliki jalan masing-masing dalam belajar dan berkembang.
“Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya belum menemukan cara belajar yang tepat,” ujarnya.
Ia juga dikenal sebagai pribadi yang sabar dan ikhlas, bahkan tetap memaklumi jika ada murid yang belum mampu membayar biaya les dalam waktu lama.
Ke depan, ia berharap bimbingan belajarnya bisa berkembang lebih luas dan membantu lebih banyak anak.
Pesan Hari Kartini
Dalam momentum Hari Kartini, Fifin menyampaikan pesan bahwa perempuan harus berani bangkit dan tidak menyerah pada keterbatasan.
Menurutnya, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, namun keterbatasan justru bisa menjadi kekuatan jika disikapi dengan cara yang tepat.
“Kalau kita tidak sama seperti orang lain, bukan berarti kita kalah. Kita hanya perlu menemukan cara kita sendiri untuk melangkah,” tuturnya.
Ia juga mengibaratkan perempuan seperti bunga mawar yang tetap indah dengan caranya sendiri dan akan tumbuh di tempat yang tepat.
Bagi Fifin, semangat Kartini bukan hanya tentang sejarah, tetapi tentang keberanian perempuan masa kini untuk terus bermimpi, bangkit, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Dan semangat itu, dalam dirinya, terus hidup dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.(des*)






