Bupati Padang Pariaman Ajak Elemen Masyarakat Kita Bangkit Bersama Bangun Daerah

Padang Pariaman – Tak ada yang benar-benar utuh pagi itu. Di Masjid Raya Ali Mukhni, ribuan orang bersujud, tapi sebagian hati masih berserakan. Tertimpa bencana, kehilangan, dan ketidakpastian. Idul Fitri 1447 Hijriah datang bukan hanya membawa takbir, tapi juga luka yang belum kering.

Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, John Kenedy Azis, berdiri di hadapan jemaah dengan pesan yang tak biasa. Ia tidak sekadar mengucapkan selamat, tapi mengguncang kesadaran.

Lebaran kali ini, katanya, bukan sekadar perayaan, ini ujian. Apakah masyarakat mampu bangkit, atau justru tenggelam dalam penderitaan yang berlarut.

Kalimatnya tajam, nyaris tanpa jeda empati. Ia mengakui, banyak warga kini hidup dalam keterbatasan ekstrem. Ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan penghidupan, bahkan ada yang kehilangan arah hidup.

Namun, di situlah iman diuji. Apakah tetap berdiri, atau ikut runtuh bersama keadaan. “Cobaan ini bukan akhir, tapi peringatan,” tegasnya, membuat suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh getaran batin.

Ia menguliti makna Idul Fitri lebih dalam. Bukan soal baju baru, bukan soal hidangan berlimpah. Ini tentang kembali ke fitrah. Setelah sebulan ditempa dalam kerasnya Ramadan. Tapi pertanyaannya, apakah nilai itu benar-benar hidup, atau mati begitu takbir berhenti?

Di tengah ironi itu, ia melempar tantangan terbuka kepada masyarakat: berhenti menjadi penonton penderitaan. Kepedulian, katanya, tidak boleh berhenti di ucapan belasungkawa. Ia harus menjelma menjadi aksi nyata, sekecil apa pun, bagi mereka yang hari ini masih berjuang dari titik nol.

Seruannya menusuk satu hal yang kerap dilupakan, persatuan. Ia mengingatkan, bencana tidak pernah memilih korban berdasarkan perbedaan. Maka, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tetap terpecah. Gotong royong, silaturahmi, dan keikhlasan harus kembali menjadi fondasi.

Namun John Kenedy Azis juga jujur. Pemerintah tidak mahakuasa. Upaya penanganan darurat, pemulihan infrastruktur, hingga pemulihan ekonomi sedang berjalan, tapi semua itu akan sia-sia jika masyarakat memilih diam. “Tanpa kebersamaan, semua hanya akan jadi rencana di atas kertas,” katanya keras.

Di sisi lain, ia menyoroti generasi muda dengan nada yang tak kalah serius. Mereka bukan sekadar pelengkap masa depan, tapi penentu. Jika mereka tersesat hari ini, maka Padang Pariaman akan kehilangan arah esok hari.

Menjelang akhir, nada suaranya melunak, namun pesannya tetap menghantam. Ia menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin, bukan sebagai formalitas, tapi sebagai ajakan untuk benar-benar membersihkan hati dari dendam, dari ego, dari apatisme.

Dan ketika takbir masih menggema, satu pesan menggantung di udara: Lebaran ini bukan garis akhir. Ini titik awal. Pilihannya hanya dua. Bangkit bersama, atau hancur perlahan dalam diam.(bay)