251 JCH Padang Pariaman Berangkat, Negara Hadir Sampai Pintu Pesawat

Padang Pariaman – Dini hari itu tak sekadar gelap, tetapi penuh haru. Di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Katapiang, 251 jemaah calon haji (JCH) Padang Pariaman melangkah pelan menuju pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA3505, Rabu (29/4/2026) pukul 01.05 WIB.

Embarkasi Padang memberangkatkan Kelompok Terbang (Kloter) 5 ini berjumlah 393 JCH berasal dari Padang Pariaman dan Bengkulu dengan rician 164 lelaki dan 229 perempuan.

Tangis pecah diam-diam. Bukan karena takut, tapi karena sadar. Perjalanan ini bukan perjalanan biasa, ini panggilan yang tak semua orang bisa jawab.

Di ujung antrean di ruang tunggu maupun masuk pesawat menaiki tangga, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kankemenhaj) Adri Ahmad masih berdiri.

Ia tak sekadar melepas, ia memastikan. Satu per satu jemaah dicek, dilihat, dipastikan siap. Dari dokumen hingga kondisi fisik. Bahkan ada jemaah yang memintanya ikut hingga Makkah.

Permintaan yang terdengar sederhana, tapi menyimpan kepercayaan besar. Jangan tinggalkan kami sebelum benar-benar sampai.
Semua bermula dari subuh yang khusyuk di Masjid Raya IKK Ali Mukhni, Selasa pagi 28 April 2026.

Dari sana, langkah demi langkah dimulai. Menuju asrama, melewati pemeriksaan kesehatan, menerima gelang identitas, paspor, hingga uang living cost 750 riyal. Setiap proses terasa seperti pengingat. Ini bukan sekadar perjalanan, ini persiapan menuju ujian spiritual.

Di aula asrama, suasana berubah hening saat bendera kloter 5 diserahkan. Bukan simbol biasa, itu tanda bahwa mereka kini satu barisan, satu tujuan. Tak ada lagi sekat usia, jabatan, atau latar belakang. Semua sama di hadapan perjalanan ini.

Beberapa hari sebelumnya, Bupati John Kenedy Azis sudah mengingatkan. Haji bukan seremoni tahunan. Ia adalah panggilan jiwa. Rentang usia 22 hingga 86 tahun di kloter ini menjadi bukti, iman tak tunduk pada usia, melainkan pada kesiapan hati.

Di tengah rombongan, sosok tua Nazar bin Djamiun berjalan berdampingan dengan Ihsanul Hafuz yang masih muda. Dua generasi, satu tujuan. Yang satu membawa pengalaman hidup panjang, yang lain membawa semangat muda. Keduanya sama-sama menuju satu titik, pengabdian total.

Dan ketika roda pesawat akhirnya terangkat, yang tertinggal di landasan bukan hanya keluarga. Tetapi doa yang tak putus.

Pemerintah menitipkan pesan terakhir. Jaga kesehatan, jaga sabar, jaga nama baik. Karena di Tanah Suci nanti, mereka bukan hanya tamu Allah, mereka adalah wajah Padang Pariaman di mata dunia.(ajo).