Padang, fajarharapan.id – Suasana Terminal Angkutan Barang Koto Lalang, Padang, Selasa (8/7/2025), tampak berbeda dari biasanya. Hiruk-pikuk kendaraan besar tergantikan sejenak oleh tawa ringan dan aroma kopi yang mengepul. Di sela aktivitas rutin, puluhan sopir truk tampak berkumpul dalam kegiatan “Ngopi Santai” yang digagas Jasa Raharja Sumatera Barat bersama Satlantas Polresta Padang dan Dinas Perhubungan Kota Padang.
Kegiatan ini bukan sekadar obrolan ringan. Di balik nuansa santai, terselip pesan penting: bahaya kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL). Kelebihan muatan dan dimensi pada kendaraan angkutan barang menjadi salah satu penyebab kerusakan jalan dan meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas.
“Kami sengaja memilih suasana santai agar bisa berdialog lebih terbuka dengan para sopir. Kadang, pendekatan non-formal seperti ini jauh lebih efektif untuk menyampaikan pesan keselamatan,” ujar Teguh Afrianto, Kepala PT Jasa Raharja Wilayah Sumatera Barat.
Teguh menyebutkan, sekitar 20 persen kasus kecelakaan lalu lintas di Sumatera Barat melibatkan kendaraan angkutan barang. Persentase ini bukan angka kecil, dan menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap praktik ODOL yang masih terjadi di lapangan.
Hal senada disampaikan oleh Kanit Kamsel Satlantas Polresta Padang, Adha Tawar, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan, kendaraan ODOL tidak hanya berisiko merusak jalan yang dibangun dengan anggaran negara, tapi juga membahayakan keselamatan para pengguna jalan, termasuk pengemudi itu sendiri.
“Kami tahu sopir juga berada dalam tekanan ekonomi, namun jangan abaikan keselamatan. Kasus kecelakaan yang disebabkan ODOL itu nyata, dan seringkali berujung fatal,” kata Adha.
Menurutnya, sosialisasi dan edukasi seperti ini harus dilakukan secara rutin, bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, tapi benar-benar menyentuh sisi kemanusiaan para pelaku transportasi.
Perwakilan Dinas Perhubungan Kota Padang, Defrizal, menambahkan bahwa kepatuhan terhadap batas muatan dan dimensi kendaraan adalah kunci untuk menjaga keselamatan dan kelangsungan armada angkutan barang itu sendiri.
“Keuntungan yang didapat dari membawa muatan berlebih mungkin tampak besar, tapi risikonya jauh lebih mahal. Sekali terjadi kecelakaan, yang rugi bukan hanya sopir, tapi keluarga, pengusaha, dan bahkan pengguna jalan lain,” ungkap Defrizal.
Dalam sesi dialog, para sopir diberi kesempatan untuk menyampaikan keluhan dan realita yang mereka hadapi di lapangan. Banyak di antaranya mengaku kerap dipaksa mengangkut muatan melebihi kapasitas karena tuntutan pemilik barang.
Menanggapi hal itu, para narasumber sepakat bahwa perubahan harus dimulai dari hulu. Tidak hanya sopir, tapi juga pengusaha dan pemilik barang harus diberi pemahaman dan sanksi yang tegas jika terbukti melanggar.
“Jasa Raharja tidak hanya hadir saat terjadi kecelakaan. Kami juga punya tanggung jawab moral untuk mencegahnya. Dan mencegah itu bisa dimulai dari kegiatan sederhana seperti ini—ngopi dan ngobrol, tapi menyentuh akar persoalan,” tambah Teguh.
Kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam itu ditutup dengan pembagian materi edukatif dan ajakan bagi para sopir untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas. Pesan utama yang dibawa: keselamatan di jalan adalah tanggung jawab semua pihak, dan dimulai dari kesadaran individu.
Dari secangkir kopi dan dialog santai di terminal, lahir harapan baru bahwa praktik ODOL bisa ditekan, dan jalanan Sumbar bisa menjadi lebih aman bagi semua.(*)







