Padang – Pakar transportasi publik Universitas Andalas, Yossyafra, menilai kondisi geografis Jalur Sitinjau Lauik yang menghubungkan Kota Padang dan Kota Solok tidak ideal untuk dilalui kendaraan dengan intensitas tinggi, terutama kendaraan bertonase besar.
Ia menjelaskan jalur nasional tersebut memiliki tingkat kemiringan yang cukup ekstrem sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas di kawasan itu.
“Secara topografi, Sitinjau Lauik memang tidak memenuhi standar jalan yang ideal, karena tingkat kemiringannya sangat curam,” ujar Yossyafra, seperti dikutip dari Langgam.id, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kendaraan berat seperti truk bermuatan besar berada dalam situasi berisiko tinggi saat melintas. Salah satu masalah yang paling sering muncul adalah kegagalan sistem pengereman akibat kombinasi beban berat dan turunan yang tajam.
“Dengan kondisi seperti ini, potensi kecelakaan sangat besar. Truk atau kendaraan berat sangat rawan mengalami rem blong, dan itu juga dipengaruhi oleh kontur jalan yang ekstrem,” tambahnya.
Selain soal keselamatan, ia juga menyoroti kemacetan yang kerap terjadi di jalur tersebut. Menurutnya, tingginya arus kendaraan berat menjadi salah satu penyebab utama padatnya lalu lintas di Sitinjau Lauik.
Ia menjelaskan seluruh kendaraan bertonase besar saat ini terkonsentrasi melewati jalur tersebut, sehingga beban jalan semakin meningkat dari waktu ke waktu.
“Permasalahan di Sitinjau Lauik ini memang karena kondisi jalannya curam dan ekstrem. Kendaraan berat juga cenderung bergerak beriringan sehingga sulit bagi kendaraan kecil untuk menyalip,” jelasnya.
Untuk mengurangi persoalan tersebut, Yossyafra mendorong pemerintah agar mempercepat pembangunan jalur alternatif, seperti Jembatan Panorama I dan Jembatan Panorama II.
Sementara dalam jangka pendek, ia menekankan pentingnya peningkatan pengawasan terhadap kendaraan berat yang melintas, terutama terkait kondisi pengemudi dan kelayakan kendaraan.
“Pengawasan harus diperketat, khususnya terhadap pengemudi. Karena faktor manusia menjadi salah satu risiko terbesar di jalur ini,” tegasnya.
Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Barat, sepanjang Januari hingga April 2026 tercatat enam insiden kecelakaan di Jalur Sitinjau Lauik. Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.
Pada Januari, kecelakaan melibatkan truk Fuso Mitsubishi BM-8018-QU, becak motor Suzuki Sogun BA-6167-HD, serta truk tangki Hino BA 8238 OAU.
Kemudian pada Februari 2026 terjadi dua insiden. Kasus pertama dalam laporan LP/A/81/II/2026 melibatkan truk Hino B 9797 CU dengan sepeda motor Yamaha Nmax BA 3150 IF, yang menyebabkan satu korban luka ringan.
Insiden kedua tercatat dalam LP/92/II/2026, melibatkan sepeda motor Yamaha Xeon BA 3576 KS dengan kendaraan lain, yang juga mengakibatkan satu korban luka ringan.
Selanjutnya pada Maret 2026, dua kecelakaan kembali terjadi. Laporan LP/A/157/III/2026 mencatat tabrakan antara truk box Hino W 8031 UT dan Honda Beat BH 2213 DW yang menyebabkan dua orang luka ringan.
Kecelakaan berikutnya dalam LP/A/176/III/2026 melibatkan Honda PCX BA 5621 HAD dan Honda Beat Street BA 4533 AAJ, dengan dua korban luka ringan.
Terakhir pada April 2026, kecelakaan tercatat dalam LP/A/221/IV/2026 yang melibatkan pick up Mitsubishi L300 BA 8658 AJ. Peristiwa ini menelan satu korban jiwa yang berada di bagian belakang kendaraan.(des*)







