Oleh: Hellen Berlian Putri
(Mahasiswa Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Menjalin Keharmonisan Melalui Etika Minangkabau
Adat Minangkabau menghargai sopan santun dalam interaksi sosial. Dalam masyarakat Minangkabau, terdapat pepatah yang mengatakan “Malu jo sopan / baso basi”, yang berarti memiliki etika yang baik, berbudi luhur, serta tingkat sopan santun yang tinggi. Pepatah ini menggambarkan sifat yang wajib dimiliki oleh orang-orang Minangkabau. Sifat malu dan sopan santun ini diasah melalui didikan orang tua, terutama ibu atau bundo kanduang.
Adat Minangkabau menyatakan, Nan kuriak iyolah budi Nan merah iyolah sago Nan baiak iyolah budi Nan indah iyolah baso. Kerusakan rumah disebabkan oleh lantainya Kerusakan bangsa disebabkan oleh akhlaknya Adat Minangkabau, sejak berabad-abad yang lalu, telah meyakinkan bahwa jika moral suatu bangsa rusak, maka bangsa itu akan hancur. Hal ini menggarisbawahi pentingnya budi pekerti yang dijunjung tinggi oleh adat Minangkabau. Malu dan sopan santun, sebagai sifat-sifat yang penting, juga harus dimiliki oleh orang-orang Minangkabau.
Buruak Muko Camin Dibalah
“Buruak muko camin dibalah” melambangkan sifat suka menyalahkan orang lain atau kurang introspeksi diri. Kata pertama, “buruak”, dalam bahasa Indonesia berarti “rusak”. Dalam konteks ini, “buruak” merujuk pada sesuatu yang sudah rusak karena lama tidak digunakan atau tidak terawat. Namun, “buruak” juga dapat merujuk pada sifat buruk yang tertanam dalam diri seseorang sejak kecil.
Kata kedua adalah “muko”, yang dalam bahasa Indonesia berarti “wajah”. “Muko” adalah bagian dari kepala, mulai dari kening hingga dagu, serta telinga kanan dan kiri. Dalam konteks ini, “muko” menggambarkan bentuk fisik seseorang atau contoh sifat yang dimiliki oleh seseorang.
Kata ketiga adalah “camin”, yang berarti “cermin” dalam bahasa Indonesia. Cermin digunakan untuk melihat penampilan diri kita. Dalam adat Minangkabau, ada pepatah “bacamin ka diri surang”, yang berarti melihat siapa diri kita sebenarnya sebelum orang lain menilai kita. Seringkali, cermin disalahkan ketika seseorang merasa bahwa wajah atau penampilannya buruk. Namun, jika wajah atau penampilannya bagus, cermin akan dipuji. Hal serupa terjadi pada sifat manusia yang suka dipuji-puji. Sifat ini kadang-kadang membuat seseorang tidak menyadari bahwa sifat tersebut bisa menjadi kesombongan bagi dirinya sendiri.
Kata terakhir dalam pepatah ini adalah “dibalah”, yang berarti “dibelah” dalam bahasa Indonesia. Ini mengacu pada sesuatu yang terbuka, rusak, dan dapat terbagi menjadi dua atau lebih. “Dibalah” memiliki arti bahwa sesuatu sengaja dihancurkan atau tidak disukai. Secara keseluruhan, pepatah “buruak muko camin dibalah” menggambarkan sifat seseorang yang suka menyalahkan orang lain, padahal ia sebenarnya tahu bahwa dirinya sendiri yang salah. Orang dengan sifat ini seringkali iri hati, kurang sopan, dan tidak memiliki tata karma dalam hidupnya.
Melalui pemahaman adat Minangkabau, diharapkan dapat terjalin keharmonisan antara individu dalam masyarakat. Etika, sopan santun, dan introspeksi diri menjadi landasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sebagai mahasiswa Sastra Minangkabau di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, saya berharap agar kekayaan budaya ini tetap dilestarikan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.(*)






