Mengglobalkan Pemikiran Tokoh-Tokoh Ranah Minang Menuju Peradaban Dunia

Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang

Padang – Di tengah arus globalisasi yang semakin mempertemukan berbagai gagasan, bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang mampu menjual produk dan teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu mengglobalisasikan pemikiran para tokohnya.

Jepang dikenal melalui Fukuzawa Yukichi. India dikenal melalui Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, dan Amartya Sen. Dunia Arab dikenal melalui Ibnu Khaldun, Al-Ghazali, dan Muhammad Abduh. Tiongkok dikenal melalui Konfusius dan Sun Yat Sen.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan intelektual yang luar biasa. Salah satu sumber terpentingnya adalah Minangkabau. Sebuah daerah yang secara geografis kecil, tetapi melahirkan ulama, negarawan, pemikir, pendidik, dan pejuang yang pengaruhnya melampaui batas-batas wilayahnya.

Sudah saatnya lahir gerakan intelektual baru: mengglobalkan pemikiran tokoh-tokoh Minangkabau.

Bukan sekadar mengenang jasa mereka, tetapi menjadikan gagasan mereka sebagai bagian dari percakapan dunia.

Tokoh pertama adalah Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Dunia Islam mengenalnya sebagai ulama besar yang pernah menjadi Imam dan Khatib di Masjidil Haram.

Namun lebih dari itu, ia merupakan simpul utama jaringan ulama Nusantara yang melahirkan generasi pembaru Islam Asia Tenggara. Pemikirannya tentang fikih, pendidikan, dan pembaruan layak menjadi objek kajian internasional sebagaimana dunia mengkaji Al-Azhar atau Madrasah Deoband.

Dari rahim pemikiran Minangkabau pula lahir Buya Hamka. Di tengah krisis spiritual manusia modern, HAMKA menawarkan sintesis unik antara agama, sastra, psikologi, dan tasawuf.

Karya-karyanya seperti Tasawuf Modern dan Tafsir Al-Azhar sesungguhnya memiliki daya jangkau universal. HAMKA bukan hanya milik Indonesia. Ia adalah aset intelektual dunia Islam yang belum sepenuhnya diperkenalkan kepada masyarakat global.

Di bidang politik dan kenegaraan, Minangkabau melahirkan Mohammad Natsir dan Mohammad Hatta. Natsir menawarkan model hubungan Islam, demokrasi, dan kebangsaan yang moderat. Hatta menawarkan konsep demokrasi ekonomi yang berkeadilan.

Ketika dunia hari ini sedang mencari alternatif, atas krisis kapitalisme dan ketimpangan sosial, pemikiran Hatta tentang koperasi dan ekonomi kerakyatan justru semakin relevan.

Dalam bidang sanad keilmuan Islam, dunia juga perlu mengenal Muhammad Yasin Al-Fadani. Beliau dikenal sebagai Musnid ad-Dunya, pemegang sanad keilmuan terbesar pada zamannya.

Di era digital yang sering kehilangan otoritas ilmu, konsep sanad yang diwariskan Syekh Yasin menjadi sangat penting untuk menjaga keaslian ilmu dan integritas akademik.

Sementara itu, Syekh Sulaiman Arrasuli dan Syekh Ibrahim Musa Parabek menawarkan model pendidikan yang memadukan agama, budaya, karakter, dan kehidupan sosial. Dunia yang sedang menghadapi krisis identitas,.akibat modernisasi membutuhkan contoh bagaimana agama dan budaya dapat berjalan harmonis tanpa saling meniadakan.

Tidak kalah penting adalah pemikiran Syekh Abdul Karim Amrullah yang mengajarkan keberanian berpikir, kemurnian tauhid, dan pentingnya literasi umat. Semangat tajdid yang beliau wariskan merupakan energi penting bagi kebangkitan umat Islam di berbagai belahan dunia.

Di bidang pendidikan perempuan, Minangkabau memiliki tokoh kelas dunia, yaitu Rahmah El Yunusiyah. Bahkan pengakuan terhadap kiprahnya telah melampaui Indonesia.

Gagasan Rahmah tentang pendidikan perempuan yang berakar pada nilai agama dan kemajuan sosial sangat relevan dengan agenda pembangunan global saat ini.

Begitu pula dengan Rasuna Said. Ia bukan hanya pejuang kemerdekaan, tetapi simbol keberanian moral dan kepemimpinan perempuan dalam ruang publik. Dunia membutuhkan lebih banyak figur seperti Rasuna Said yang memperjuangkan keadilan tanpa kehilangan integritas.

Sesungguhnya ada benang merah yang menghubungkan seluruh tokoh besar Minangkabau tersebut. Mereka lahir dari tradisi intelektual yang kuat, menghormati ilmu, dekat dengan agama, mencintai bangsa, dan terbuka terhadap perubahan.

Mereka tumbuh dari peradaban surau yang mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar alat mencari pekerjaan, tetapi sarana membangun manusia dan peradaban.

Di sinilah relevansi falsafah Minangkabau.
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Falsafah ini bukan hanya warisan lokal, tetapi dapat menjadi kontribusi penting bagi dunia yang sedang mencari keseimbangan antara agama, budaya, modernitas, dan kemanusiaan.

Oleh karena itu, mengglobalkan pemikiran tokoh-tokoh Minangkabau bukan pekerjaan romantisme sejarah. Ia adalah proyek peradaban.

Karya-karya mereka perlu diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, manuskrip mereka perlu didigitalisasi, pusat studi internasional perlu dibangun, dan konferensi ilmiah global perlu diselenggarakan secara berkala.

Jika dunia mengenal Ibnu Khaldun dari Afrika Utara, Al-Ghazali dari Persia, atau Muhammad Abduh dari Mesir, maka tidak ada alasan dunia tidak mengenal Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, HAMKA, Natsir, Hatta, Syekh Yasin Al-Fadani, Inyiak Canduang, Ibrahim Musa Parabek, Haji Rasul, Rahmah El-Yunusiyah, dan Rasuna Said dan tokoh lainnya.

Sudah waktunya Minangkabau tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi menjadi subjek peradaban dunia.

Sebab sejatinya, dari surau-surau kecil di Ranah Minang pernah lahir gagasan-gagasan besar yang hingga hari ini masih relevan untuk menjawab persoalan umat manusia.

Ranah Minang bukan hanya melahirkan tokoh besar untuk Indonesia, tetapi juga menyimpan warisan pemikiran yang layak menjadi cahaya bagi dunia.(ds.29052026).