Rupiah Menguat ke Rp17.860, Sentimen Global dan Domestik Jadi Pendorong

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan hari ini.

Jakarta — Pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah tercatat mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Indonesia tersebut menguat sekitar 128 poin atau setara 0,71 persen hingga berada di posisi Rp17.860 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, salah satunya dari kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membatalkan rencana aksi militer sebelumnya. Ia juga disebutkan membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran, yang dapat berdampak pada pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz lebih cepat dari perkiraan, meskipun pihak Iran masih belum memberikan keputusan final.

Ketegangan di kawasan tersebut sebelumnya meningkat setelah Iran mengumumkan pembatasan akses di Selat Hormuz, bahkan mengancam akan menindak kapal yang memasuki wilayah tanpa izin. Jalur ini sendiri merupakan salah satu rute penting dunia karena dilalui sebagian besar distribusi minyak dan gas global. Kondisi blokade yang berkepanjangan sempat menjaga harga energi tetap tinggi.

Di sisi lain, laporan dari media pemerintah Iran menyebutkan bahwa aparat keamanan berhasil menghentikan sebuah kapal tanker yang mencoba melintas tanpa koordinasi resmi. Namun, pihak militer Amerika Serikat menyatakan bahwa aktivitas pelayaran komersial di wilayah tersebut masih berlangsung normal.

Dari Amerika Serikat, data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan inflasi yang belum mereda. Kenaikan harga produsen pada Mei 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan dan menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh meningkatnya biaya energi.

Situasi ini membuat pelaku pasar memperkirakan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS, Federal Reserve, pada akhir tahun. Probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai sekitar 60 persen.

Sementara itu dari dalam negeri, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di level 4,7 persen.

Revisi tersebut mencerminkan performa ekonomi Indonesia pada kuartal I/2026 yang lebih kuat dari perkiraan, dengan pertumbuhan mencapai 5,6 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan, didorong oleh momentum Ramadan dan Idulfitri, percepatan pencairan tunjangan hari raya bagi ASN, serta dukungan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis.

Sepanjang tahun 2026, konsumsi swasta diperkirakan tetap stabil di sekitar 5 persen berkat dukungan kebijakan fiskal. Sementara konsumsi pemerintah diprediksi meningkat lebih tinggi, mendekati 8,7 persen. Dari sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto juga menunjukkan pertumbuhan yang solid sekitar 6 persen pada kuartal awal tahun.

Meski demikian, Bank Dunia mengingatkan adanya risiko dari ketergantungan ekonomi pada konsumsi domestik dalam jangka pendek, terutama terkait keterbatasan ruang fiskal dan potensi kenaikan subsidi akibat gejolak harga energi global.

Selain itu, ketidakpastian pasar juga dipengaruhi oleh evaluasi indeks MSCI yang dapat memengaruhi arus modal asing.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak cukup fluktuatif pada perdagangan berikutnya, namun masih berpotensi ditutup menguat dengan kisaran Rp17.860 hingga Rp17.910 per dolar AS. Untuk jangka mingguan, pergerakan diperkirakan berada di rentang Rp17.780 hingga Rp18.040 per dolar AS.(BY)