Kota Pariaman – Untuk memperkuat kapasitas para pelaku industri kreatif di Kota Pariaman, Sumatera Barat lewat berbagai program pelatihan dan workshop, Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bekerjasama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menggelar workshop Pelatihan Fotografi, Strorytelling dan Canva Pro
Kegiatan Workshop bertema “Resiliensi Visual Untuk Promosi Ekonomi Kreatif dan Kebangkitan Sumatera Barat” dengan peserta 50 orang dari pelaku industri kreatif Kota Pariaman.
Kegiatan bertempat di Aula Pertemuan Gedung Bersama Lantai III Karan Aur Kota Pariaman, Sabtu (18/4/2026), yang dibuka Wali Kota Pariaman Yota Balad didampingi Direktur Penerbitan dan Fotografi Direktorat Penerbitan dan Fotografi Kementerian Ekonomi Kreatif Iman Santosa, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ferialdi, dengan Narasumber Marrysa Tunjung Sari (Visual Storyteller Photographer) dan Afiili Sari beserta Arianus Nakhe dari Canva.
Walikota Yota Balad dalam sambutannya mengatakan bahwa diera digital saat ini, kekuatan visual bukan lagi sekedar pelengkap, melainkan menjadi ujung tombak dalam membangun persepsi.
“Dan menarik perhatian serta meningkatkan daya saing visual yang kuat, kreratif, dan berkarakter sebagai identitas yang mampu mengangkat potensi daerah kita ke tingkat yang lebih tinggi,” tegasnya.
Yota Balad meminta kepada Kemenekraf melalui Direktur Penerbitan dan Fotografi Kemenekraf Iman Santosa untuk dapat menjadikan Kota Pariaman sebagai pilot projek atau sebagai kota binaan yang secara visualnya bisa terjual.
“Sehingga mindset pengunjung ke Sumbar itu hanya ingat Kota Pariaman saja sebagai daerah tujuan wisatanya,” ujar Yota Balad.
“Melalui kegiatan ini saya berharap kepada peserta akan lahir ide-ide segar kreatif dan terjalin kolaborasi baru serta semangat baru dalam rangka meningkatkan perekonomian di Kota Pariaman,” ulasnya.
Sementara itu Iman Santosa juga menjelaskan bahwa Workshop ini hadir sebagai jawaban konkrit dari kerjasama ekonomi kreatif melalui program ekraf peduli.
Ia menyebut Kota Pariaman salah satu kota yang terdampak dari bencana hidrometeorologi, yang terdiri dari tiga pilar utama yaitu pertama fotografi, kedua story telling dan ketiga design canva,
Jadi menurut Iman Santosa, bahwa pada pilar pertama itu peserta akan dibekali kemampuan dalam menciptakan konten visual autentik yang mampu mendokumentasikan resiliensi pelaku ekraf sumbar pasca bencana melalui fotografi yang professional.
“Kedua, menceritakan kisah pegiat ekraf lokal melalui narasi story telling yang menggugah dan yang ketiga mengemas konten menjadi produk digital siap publish dengan menggunakan aplikasi canva,” ulasnya.
Ia meyakini bahwa Kota Pariaman bukan hanya sekedar ruang georafis melainkan landscape budaya yang lengkap dengan kekuatan tradisi dinamika pesisir, dan nilai-nilai kebersamaan yang menghasilkan kekayaan visual sekaligus narasi yang otentik.
“Sehingga menjadikannya ruang yang sangat relevan untuk pengembangan fotografi dan story telling sebagai medium yang tidak hanya merekam juga memaknai realitas,” sebut Iman Santosa.(r-mak)






