Pariaman – Di salah satu sudut Desa Balai Naras, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, sebuah pertanyaan sederhana hampir setiap pagi terus terulang.
Namun pertanyaan itu bukan soal rasa sakit yang diderita, melainkan tentang harapan besar yang tak pernah padam di tengah keterbatasan fisiknya.
“Kapan Nabila bisa kuliah?”
Kalimat itu kerap diucapkan oleh Nabila Sandi (20). Bagi sang ibu, Era Mimi Calwati (49), pertanyaan tersebut menjadi dua sisi yang bertolak belakang: menyakitkan sekaligus menguatkan.
Hatinya pilu melihat anak semata wayangnya terbaring lemah, namun di saat yang sama ia tersentuh oleh semangat Nabila yang tetap hidup meski kondisi tubuhnya terus melemah.
Nabila bukan remaja pada umumnya. Sejak masih duduk di kelas 6 SD pada 2012, ia sudah harus bolak-balik menjalani perawatan medis di rumah sakit. Ia didiagnosis menderita tumor otak akut yang membuatnya harus menjalani operasi hingga lima kali. Selain itu, ia juga pernah berjuang melawan TBC serta komplikasi pada paru-paru.
Dalam setahun terakhir setelah lulus dari SMAN 4 Pariaman, sebagian besar waktunya dihabiskan di tempat tidur. Sementara teman-teman sebayanya melanjutkan aktivitas dan persiapan kuliah, Nabila lebih sering menjalani kontrol kesehatan rutin di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya.
Ayahnya, Irwan (51), bersama sang ibu terus berupaya memenuhi kebutuhan nutrisi dan susu untuk Nabila, meski kondisi ekonomi mereka cukup terbatas. Di tengah situasi itu, membayangkan Nabila bisa duduk di bangku kuliah terasa seperti sesuatu yang sangat jauh.
“Penyakit ini sudah dialaminya lebih dari 10 tahun, tetapi semangatnya untuk tetap melanjutkan pendidikan tidak pernah hilang,” ujar Era dengan mata berkaca-kaca, Kamis (16/4/2026).
Doa dan harapan keluarga kecil ini akhirnya mendapat jawaban. Pada Kamis siang, kediaman mereka didatangi tamu istimewa. Rektor Universitas Sumatera Barat (Unisbar), DR. Hj. Nurtati, bersama Wakil Rektor I Ns. Sri Burhani Putri, S.Tr.Kes., PhD, serta Ketua PMB Ns. Weddy Martin, S.Tr.Kes., M.Kep, datang membawa kabar yang mengubah suasana haru keluarga tersebut.
Tanpa proses yang berbelit, pihak kampus menyampaikan Nabila resmi diterima sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Unisbar. Tidak hanya itu, ia juga memperoleh beasiswa penuh hingga lulus serta bantuan uang saku bulanan untuk mendukung pendidikannya.
“Nabila sudah bisa mulai kuliah sekarang. Semoga lekas pulih, ya,” ucap Nurtati sambil memegang tangan Nabila dengan penuh kehangatan.
Nurtati mengaku tersentuh setelah mengetahui kisah perjuangan Nabila yang disampaikan melalui Aksi Solidaritas Piaman Laweh (ASPILA). Ia menilai tekad kuat Nabila menjadi bukti keterbatasan fisik maupun ekonomi tidak menghalangi seseorang untuk meraih pendidikan.
Mendengar kabar tersebut, wajah Nabila yang sempat lesu kembali dipenuhi senyum. Ia seperti mendapatkan semangat baru untuk terus berjuang melawan penyakitnya.
Cita-citanya sederhana, yakni ingin menjadi pengusaha sukses agar bisa membahagiakan orang tuanya yang selama ini setia mendampingi perjuangannya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.
Kini, pertanyaan “Kapan Nabila bisa kuliah?” tidak lagi menjadi beban bagi kedua orang tuanya. Sebab jawabannya sudah terwujud. Nabila, penyintas tumor otak itu, kini resmi menjadi mahasiswa, sebuah bukti bahwa harapan selalu memiliki jalan untuk menjadi nyata. (des*)






