Padalarang – Halim Jakarta 30 Menit ; Yo Cigin Kereta Cepat Indonesia Whoosh

Catatan kecil ; Suardi Aminsyah

Kehadiran kereta cepat yang di bangun Pemerintah Indonesia ini, agaknya sesuai dengan kebutuhan terhadap mobilitas pergerakan ekonomi melalui transportasi darat ke depannya. Terutama sektor transportasi darat yang punya teknologi tinggi.

Tak pelak lagi, pada awal pembangunan muncul beragam argumentasi tentang pembangunan kereta cepat jurusan Jakarta – Bandung ini. Ada pro dan kontra yang bersileweran di jagat media sosial. Juga pemberitaan pada media cetak, elektronik dan media online.

Bahkan, ada yang lebih keras lagi, ndak pantiang na doh kereta cepat ko, masih banyak yang lain untuk di tangani. Karena, begitu banyak problema ekonomi yang harus dan urgen di selesaikan Pemerintah secara bijak demi kesejahteraan masyarakat.

Walaupun ada yang mengkritik itu, pihak Pemerintah terus melangkah membangun infrastruktur kereta cepat Jakarta – Bandung tersebut. Seperti jalan flay over, stasiun dan fasilitas serta pendukung lainnya. Terutama sekali tentang ruas jalan dan layanan, terkoneksi dengan sistim teknologi begitu canggih.

Belum lama ini, kebetulan penulis ada ikut kunjungan kerja bersama Dinas Kominfo Kota Pariaman – PWI Padang Pariaman/Pariaman ke Kota Bandung.

Kunjungan Studi Koperatif ke Kota Bandung Jawa Barat itu, memang begitu banyak pembelajaran yang kita peroleh di sana. Setidaknya, dalam segi pelayanan digital kepada masyarakat di Kota Bandung.

Ketika mau balik ke Jakarta dari Bandung, rombongan berkeinginan pula “mancubo”  naik kereta cepat tersebut. Tiga hari sebelumnya, dari Jakarta – Bandung naik Minibus Travel masa tempuh selama 3,5 Jam dengan ongkos senilai Rp 200 ribu per-kepala. Itupun, telah berhenti pula di Sea Area. Sedangkan, bila naik Bus dengan ongkos Rp 185 ribu per-orang, sekitar 4 jam sampai di Bandung.

Kini, rombongan naik Kereta Cepat Indonesia Whoosh (Waktu Hemat, Operasional Optimal, Sistim Hebat) Stasiun Padalarang Bandung – Halim Jakarta berjarak sekitar 125 km itu ditempuh selama 30 menit dengan ongkos Rp 200 ribu per-orang, ini ketika hari biasa. Sedangkan pada hari Weekend Day sebesar Rp 250 ribu per-orang.

Di Stasiun Kereta Api Bandung mau ke Stasiun KCI Whoosh Padalarang, kita naik Kereta Freeder terlebih dahulu yang jarak tempuh 20 km selama masa waktu 18 menit.

Di Stasiun Bandung, kita naik Kereta Freeder ke Stasiun Padalarang, seperti kita naik Kereta dari BIM Katapiang ke Kota Padang.

Memang, kita lihat kereta cepat Whoosh ini, mana yang kepala dan mana yang belakang, sama-sama runciangnyo berlampu kiri kanan di hidungnya sarupo Oto Bus.

Setiba kita mau masuk ruang tunggu Stasiun KCI Whoosh Padalarang, Wak telah di hadapi dengan fasilitas sistim teknologi komputer. Kuricih elektronik yang dipegang contohnya, lah mulai di sorongkan ke meja ngenek di depan kita. Kalau tidak disodorkan ke lubangnya, tak pacak lewat karena di hambatnya Wak dengan plang.

Di ruang tunggu ini, kita tidak berapa lama pula menanti, telah meluncur saja KCI Whoosh. Kesemua penumpang naik secara teratur dan tertib. Sesuai jadwal keberangkatan menuju Stasiun KCI Whoosh di Halim Jakarta yang berjarak 125 km masa tempuh selama 30 menit.

Kita akui di KCI fasilitas berteknologi tinggi semua agaknya. Fasiltas terkoneksi kepada semua layanan. Ada AC, Stop Kontak cas hape atau laptop, ada Rak Bagasi dan Toilet. Kemudian, ada petugas perempuan rancak berseragam yang mondar-mandir memberikan senyuman ramah menyapa. Seperti pramugari di pesawat terbang.

Pada gerbong ekonomi tersedia antara 60 – 80 orang, sedangkan VIP tersedia 30 tempat duduk. Juga ada VVIP hanya berisikan sebanyak 18 orang.

Disamping itu, KCI Whoosh ini selalu memberikan informasi terkini selama dalam perjalanan. Suara itu terucap dan terdengar melalui speaker ngenek yang terletak pada sisi loteng gerbong.

Seperti kecepatan KCI Whoosh, suhu ruangan, serta posisi daerah atau wilayah yang di tempuh. Sekaligus, juga tampil informasi ring tech di layar yang terpampang agak ketinggian di depan Wak.

Bahkan, juga di informasikan kepada penumpang ketika memasuki Terowongan sepanjang 4,4 km yang ditempuh selama 3 menit dengan kecepatan 270 km per-Jam.

Sehingga pada setiap memberikan informasi, suara itu diakhiri dengan slogan “Salam Whoosh, Yes ..!

Ketika mau naik di Stasiun Padalarang maupun di Stasiun Halim Jakarta, kita lihat para penumpang rata-rata warga negara indonesia semua.

Yang sebelumnya, ada kekhawatiran akan di tumpangi khusus dari Wisatawan Mancanegara kebanyakan, dan punya berkantong tebal. Kenyataannya, juga tidak demikian kita lihat. Bisa jadi, calon penumpang punya mobilitas tinggi dengan bisnis maupun lainnya.

Cuma mungkin yang beda tempat duduk dan fasilitas yang disediakan KCI Whoosh.
Kalau demikian, agaknya sudah biasa dan lumrah. Seperti Hotel Berbintang dengan Home Stay. Sedangkan naik Bus saja, ada juga bedanya Kelas VIP dan Ekonomi.

“Ndak ado nan manual doh, sampai kuricih gai elektronik. Yo sabana santiang kereta Cigin ko. Sahinggo e tidak ado suaro berisik terdengar dalam ruang gerbong. Aniang sado alahnyo. Mungkin aia ditarok dalam galaih, ndak tatumpah gai doh” begitu ciloteh dari teman Wak ketika itu.

Semoga jumpa kembali pada lain waktu dan peristiwa naik Kereta Cepat Indonesia Whoosh.
Salam Whoosh, Yes .. !