Sepuluh Hari Pencarian, Irman Ditemukan Selamat di Tengah Belantara Sumbar

Irman (61) warga Nagari Tarantang dinyatakan hilang 10 hari di hutan.
Irman (61) warga Nagari Tarantang dinyatakan hilang 10 hari di hutan.

Limapuluh Kota – Sepuluh hari bukan waktu yang singkat bagi sebuah keluarga yang dilanda kecemasan tanpa kepastian. Di Nagari Tarantang, setiap detik yang berlalu sejak Irman (61) berpamitan menuju kawasan Bukit Rangkak pada awal Mei 2026 terasa seperti ujian batin yang tak berujung bagi keluarganya.

Upaya pencarian telah dilakukan secara maksimal. Tim SAR gabungan menyusuri belantara yang lebat, sementara warga setempat ikut serta memanjatkan doa dan berharap ada tanda-tanda keberadaan pria lansia itu. Namun, hutan yang luas dan rimbun seolah menyimpan rapat-rapat misterinya. Irman menghilang tanpa jejak, seakan ditelan oleh hijaunya alam Sumatera Barat yang indah sekaligus menyimpan bahaya.

Warga Jorong Lubuak Limpato dikejutkan oleh sosok pria yang berjalan perlahan di ujung jalan berkabut tipis. Sosok itu bukan ilusi atau kabar burung—ia adalah Irman yang selama ini dicari. Ia kembali dengan membawa ikatan-ikatan petai segar di pundaknya, menebarkan aroma khas yang bercampur dengan rasa haru keluarga dan warga yang menyambutnya.

Peristiwa ini bermula pada Minggu pagi, 3 Mei lalu. Meski sempat dicegah oleh sang anak, M. Fajar, Irman tetap memilih masuk ke hutan untuk mencari hasil alam. Dengan bekal sederhana berupa air minum dan rokok, ia melangkah seorang diri. Hutan yang selama ini akrab dengannya justru berubah menjadi medan yang membingungkan dan asing.

Fajar menuturkan kembali cerita ayahnya dengan suara bergetar. Menurut Irman, perjalanan di dalam hutan terasa aneh. Ia merasa terus berputar di jalur yang sama, seolah kehilangan orientasi dan tidak menemukan jalan keluar meski terus berjalan, Jumat, (15/5).

Selama sekitar sepuluh hari atau 240 jam, Irman berada dalam kondisi yang sulit dijelaskan. Di tengah pencarian besar-besaran di luar sana, ia justru menjalani hari-hari di dalam hutan dengan pengalaman yang terasa tidak biasa. Ia mengaku tidak merasakan lapar, kantuk, maupun dingin seperti yang seharusnya dialami seseorang yang terjebak di alam terbuka.

Setiap malam, ia berteduh di bawah dahan pohon sambil tetap menjaga ikatan petai yang berhasil dipetiknya. Bagi Irman, hasil hutan itu adalah amanah yang harus dibawa pulang untuk keluarganya.

Hal yang paling membingungkan dari kisah ini adalah pengakuannya tentang beberapa sosok yang ia lihat di dalam hutan. Ia sempat berpapasan dengan orang lain, termasuk seorang pemikat burung, namun tidak mendapatkan respons meski telah berteriak meminta pertolongan. Ia merasa seolah berada di dunia yang terpisah, terlihat tetapi tidak terlihat.

Di tengah masyarakat Minangkabau, pengalaman seperti ini kerap dikaitkan dengan kisah “orang bunian”. Namun di luar penjelasan budaya maupun kemungkinan kondisi medis seperti disorientasi, kepulangan Irman menjadi peristiwa yang disambut sebagai keajaiban oleh keluarga dan warga.

Tim SAR serta para relawan yang terlibat dalam pencarian akhirnya dapat bernapas lega meski sempat dibuat heran oleh kondisi Irman yang ditemukan dalam keadaan relatif stabil dan tenang setelah hari-hari panjang di hutan.

Kini Irman telah kembali berkumpul dengan keluarganya. Ikatan petai yang dibawanya pulang seolah menjadi simbol keteguhan seorang ayah dalam memegang tanggung jawab, bahkan di tengah situasi yang penuh misteri.

Bagi masyarakat Limapuluh Kota, kisah ini bukan sekadar cerita tentang hilang dan ditemukan kembali. Ia akan dikenang sebagai kisah tentang keteguhan, harapan, dan hubungan manusia dengan alam yang kadang melampaui nalar, namun tetap berujung pada satu hal sederhana: pulang ke rumah.(des*)