Kota Pariaman – Isak tangis pecah tanpa aba-aba di Aula Balaikota Pariaman, Kamis pagi itu, (30/4/2026). Sebagian memeluk erat, sebagian lain hanya mampu menatap dengan mata basah ketika 133 Jemaah Calon Haji (JCH) bersiap meninggalkan tanah kelahiran.
Di tengah suasana yang mengguncang perasaan, perpisahan terasa begitu nyata. Bukan sekadar perjalanan, tapi juga pertaruhan rindu yang tak pasti kapan terbayar.
Di momen yang sarat emosi itu, Yota Balad bersama Mulyadi berdiri di barisan depan, melepas keberangkatan Kloter 7 Embarkasi Sumatera Barat Tahun 1447 H/2026 M.
Namun yang paling terasa bukan seremoni resminya, melainkan detik-detik ketika keluarga harus merelakan orang tercinta berangkat menuju panggilan suci.
Kalimat “selamat jalan” terasa berat diucapkan. Yota Balad pun tak sekadar memberi sambutan formal. Ia menyelipkan doa dan peringatan yang terasa lebih seperti pesan seorang keluarga.
Bahwa ibadah haji bukan perjalanan biasa, melainkan panggilan langit yang tak semua orang mampu menjawabnya. Ada kebanggaan, tapi juga kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.
Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan di tengah perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Di balik kalimat itu tersimpan kekhawatiran yang nyata.
Bahwa perjalanan ini menuntut fisik dan mental yang kuat. “Jaga stamina, patuhi petugas,” pesannya tegas, seolah mengingatkan bahwa risiko selalu ada di balik ibadah besar ini.
Sorotan juga diarahkan kepada para petugas haji. Dalam nada yang tidak main-main, Yota Balad meminta mereka hadir sepenuh hati. Melayani, melindungi, dan membimbing tanpa lelah. Sebab di tangan merekalah kenyamanan dan keselamatan para jemaah dipertaruhkan.
Rombongan JCH dijadwalkan bertolak dari Embarkasi Padang pada Jumat (1/5/2026) pukul 13.20 WIB menuju Mekkah dan Madinah.
Ini sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menguji keteguhan hati. Antara harapan menjadi haji mabrur dan kerinduan untuk kembali pulang.
Tahun ini, JCH Kota Pariaman tergabung dalam Kloter 7 bersama jemaah dari Kota Bukittinggi dengan total 393 orang. Dari jumlah tersebut, 133 berasal dari Pariaman terdiri 55 laki-laki dan 78 perempuan.
Di antara mereka, ada kisah yang menggetarkan. Anwar Abdullah yang tetap berangkat di usia senja, serta Atta Thariq Bestari yang memulai perjalanan spiritualnya di usia muda. Dua generasi, satu tujuan. Menjawab panggilan yang sama, dengan cerita yang berbeda.(mak).








