Laksamana Muda TNI Datang, Pariaman Pasang Kuda-Kuda Ketahanan Pangan Nasional

Kota Pariaman – Langit pagi di Kota Pariaman, Sumatera Barat belum sepenuhnya terang ketika langkah-langkah penting itu dimulai. Di Balairung Rumah Dinas Wali Kota, Kamis (23/4/2026), suasana terasa hangat namun sarat makna.

Wali Kota Pariaman Yota Balad berdiri di garis depan, menyambut tamu negara dengan penuh kehormatan. Di sampingnya, Sekretaris Daerah Afrizal Azhar dan jajaran pejabat lainnya menyusun sikap, seolah memahami bahwa hari itu bukan sekadar seremoni biasa.

Kedatangan Komandan Kodaeral II Laksamana Muda TNI Sarimpunan Tanjung bukan hanya kunjungan protokoler. Ia membawa pesan besar tentang masa depan. Ketahanan pangan yang tak bisa lagi ditawar.

Bersama rombongan dan Ketua Daerah GJKRI, kehadiran mereka menjadi simbol bahwa pusat mulai menaruh perhatian serius pada daerah Termasuk Pariaman yang selama ini bergerak dalam senyap.

Namun yang mencuri perhatian justru bukan pidato panjang atau barisan kendaraan dinas. Di meja sarapan, tersaji katupek gulai tunjang dan katupek gulai paku, lengkap dengan sala bulek. Cita rasa khas yang seolah berbicara lebih jujur daripada kata-kata.

Di momen sederhana itu, sekat antara pejabat dan prajurit mencair. Percakapan mengalir ringan, tetapi arah pembicaraan tetap tajam. Bagaimana memastikan rakyat tidak kekurangan pangan di tengah ketidakpastian global.

Di balik jamuan itu, tersimpan pesan kuat dari seorang kepala daerah. Yota Balad tampak ingin menunjukkan bahwa Pariaman bukan hanya siap menjadi tuan rumah, tetapi juga siap menjadi pemain.

Ketahanan pangan, baginya, bukan sekadar program nasional, melainkan soal harga diri daerah. Tentang bagaimana masyarakat bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung penuh pada pasokan luar.

Rombongan kemudian bergerak menuju Desa Kampung Kandang, Kecamatan Pariaman Timur. Di sanalah denyut utama kegiatan berlangsung.

Program Ketahanan Pangan Nasional Tahun 2026 dipusatkan, mempertemukan berbagai elemen. Militer, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat akar rumput. Semua menyatu dalam satu tujuan. Memastikan kebutuhan dasar rakyat tetap terjaga.

Tak hanya soal pangan, kegiatan itu juga dirangkai dengan bakti kesehatan. Warga yang selama ini mungkin sulit menjangkau layanan medis, hari itu mendapatkan perhatian langsung.

Ada harapan yang tumbuh di antara antrean warga. Harapan sederhana, tetapi sangat berarti: hidup yang lebih layak dan masa depan yang lebih pasti.

Di ujung hari, kunjungan ini meninggalkan lebih dari sekadar jejak acara resmi. Ia menanamkan kesadaran bahwa ketahanan pangan bukan lagi isu pinggiran.

Kota Pariaman, dengan segala keterbatasannya, sedang dipanggil untuk menjadi bagian dari solusi besar bangsa. Dan dari Balairung hingga Kampung Kandang, pesan itu menggema. Bahwa kedaulatan pangan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan kesungguhan besar.(mak)