Padang Pariaman – Tak ada tepuk tangan panjang, yang tersisa justru gema peringatan. Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, John Kenedy Azis, menjadikan pelantikan pejabat tinggi pratama, Senin (13/4/2026), sebagai panggung untuk mengguncang mental birokrasi, bahwa jabatan bukan perlindungan, melainkan ujian tanpa jeda.
Di tengah suasana formal, arah kepemimpinan ditegaskan tanpa basa-basi. Pelantikan disebutnya bukan rutinitas, tetapi langkah serius merapikan mesin pemerintahan yang selama ini kerap tersendat oleh lemahnya ketegasan dan longgarnya disiplin.
Sorotan tajam mengarah pada satu posisi kunci yang memegang kendali OPD strategis. BPKD, BKPSDM, Inspektorat, hingga Bapelitbangda. Posisi ini bukan sekadar administratif, melainkan pusat gravitasi kebijakan. Tempat di mana kualitas tata kelola ditentukan.
Nama Srinelis kini berdiri di garis depan. Dari Sekretaris Dinas Kesehatan, ia melangkah ke kursi Asisten Administrasi Umum Setdakab, membawa harapan sekaligus beban besar yang tak bisa ditawar.
“Jangan takut menegakkan aturan, jangan ragu mengambil keputusan.” Kalimat itu meluncur seperti garis komando. Bagi Bupati, kepemimpinan bukan soal popularitas, tetapi keberanian menjaga marwah aturan. Bahkan saat harus berhadapan dengan tekanan internal.
Ia kembali menegaskan satu hal yang tak bisa dinegosiasikan: disiplin. Bukan sekadar kewajiban, melainkan identitas. Tanpa disiplin, organisasi kehilangan arah, target berubah ilusi, dan kepercayaan publik perlahan menguap.
Tak ada lagi ruang aman.
Evaluasi kinerja dipastikan berjalan ketat dan berkala. Pesannya jelas, jabatan bisa dicabut kapan saja jika tak diiringi hasil nyata. Era nyaman tanpa prestasi disebutnya harus segera diakhiri.
Pelantikan ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar pergantian pejabat. Ia berubah menjadi deklarasi keras: birokrasi Padang Pariaman sedang dipaksa berbenah. Tegas, terukur, dan tanpa kompromi, atau siap ditinggalkan oleh zaman.(bay).







