Padang Pariaman – Tak ada yang benar-benar siap dengan perpisahan, bahkan di ruang resmi sekalipun. Pada hari Selasa (7/4/2026) di Hall Kantor Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, suasana mendadak menjadi hening. Seolah waktu ikut menahan napas saat satu era perlahan ditutup, dan era lain dipaksa lahir dalam diam.
Nama Rudy Repenaldi Rilis yang selama ini memegang jabatan Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Padang Pariaman menggema bukan sekadar sebagai pejabat yang pergi. Tetapi sebagai simbol perjalanan panjang yang kini berhenti di persimpangan.
Dua puluh tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menanam jejak di tubuh birokrasi Kabupaten Padang Pariamani. Dan hari itu, jejak itu seakan diputar ulang dalam ingatan banyak orang.
Ada rasa kehilangan yang tak diucapkan, terselip di antara tepuk tangan yang terdengar formal. Sebab di balik setiap jabatan, selalu ada hubungan manusiawi yang sulit digantikan begitu saja. Ketika kursi itu dilepas, yang ikut pergi bukan hanya kewenangan. Tetapi juga kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.
Di sisi lain, Hendra Aswara melangkah maju. Bukan dengan kemewahan selebrasi, melainkan dengan beban yang langsung terasa di pundak.
Status Pelaksana Harian mungkin terdengar sementara, tetapi tekanan yang mengiringinya justru nyata dan tak mengenal jeda.
Wakil Bupati Rahmat Hidayat mencoba menenangkan riak yang tak terlihat.
Ia berbicara tentang kebersamaan, tentang pentingnya menjaga sinergi. Namun semua yang hadir paham, pergantian posisi strategis seperti ini selalu membawa gelombang yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan.
Kalimat “silaturahmi harus tetap dijaga” terdengar sederhana, tetapi sarat makna. Ia seperti pesan tersirat bahwa perubahan seringkali menguji kesetiaan. Siapa yang bertahan, siapa yang menjauh, dan siapa yang diam menunggu arah angin berikutnya.
Rudy menutup pengabdiannya dengan suara yang bergetar. Dari ajudan hingga Sekda, dari tugas kecil hingga keputusan besar.
Kesemuanya ia lalui dengan cara yang kini hanya bisa dikenang. Permintaan maafnya bukan basa-basi. Melainkan pengakuan bahwa dalam panjangnya perjalanan, tak semua langkah selalu sempurna.
Sementara itu, harapan kini bertumpu pada Hendra Aswara yang juga Inspektur Padang Parisman. Ia meminta arahan, mengajak kebersamaan, dan menegaskan komitmen.
Namun publik tahu, ujian sesungguhnya bukan pada pidato, melainkan pada keberanian mengambil keputusan di tengah tekanan dan ekspektasi yang saling berkelindan.
Hari itu, sertijab bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi cermin yang jujur. Tentang rapuhnya kekuasaan, tentang beratnya kepercayaan, dan tentang satu hal yang tak pernah berubah. Pada setiap jabatan, pada akhirnya, hanyalah titipan yang suatu saat harus dilepaskan.(bay).






