Stunting Naik di Padang Pariaman, Musrenbang Terintegrasi RKPD 2027 Diuji

Padang Pariaman – Di sebuah ruang rapat yang dipenuhi pejabat dan pemangku kepentingan, kegelisahan itu sebenarnya tak pernah benar-benar hilang. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat menggelar Musrenbang Terintegrasi RKPD 2027 dan Rembuk Stunting 2026 di Hall IKK Parik Malintang, Senin (6/4/2026).

Forum ini disebut strategis, tapi di luar ruangan, masyarakat masih bergulat dengan persoalan lama yang belum tuntas.

Angka stunting yang justru meningkat pada 2024 menjadi bayang-bayang besar dalam pertemuan itu. Di tengah ambisi pembangunan dan deretan program yang dipaparkan, fakta tersebut berdiri seperti alarm keras bahwa ada yang belum berjalan sebagaimana mestinya.

Wakil Bupati Padang Pariaman, Rahmat Hidayat, menyebut Musrenbang sebagai momentum penting menyelaraskan arah pembangunan. Tema besar 2027 pun digulirkan: transformasi ekonomi inklusif dan berkelanjutan berbasis ketahanan pangan, kesejahteraan sosial, serta pemulihan pascabencana. Sebuah visi yang terdengar kuat, namun menuntut pembuktian di lapangan.

Di sisi lain, paparan dari perwakilan Gubernur Sumatera Barat melalui Ferdinal Asmin menyoroti indikator makro—pertumbuhan ekonomi, pengangguran, kemiskinan, hingga ketimpangan.

Ia mengingatkan, angka-angka itu tidak boleh berhenti sebagai statistik, melainkan harus menjelma menjadi kesejahteraan nyata bagi masyarakat.

Suara akademik dari Elfindri mempertegas kegelisahan tersebut. Ia menekankan bahwa pembangunan tanpa kualitas sumber daya manusia hanya akan menciptakan masalah baru.

Dalam konteks itu, stunting bukan sekadar isu kesehatan, tetapi ancaman serius bagi masa depan ekonomi daerah.

Ironi pun tak terhindarkan. Di saat Sumatera Barat didorong menjadi lumbung pangan dan pusat pertumbuhan ekonomi, masih ada anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan gizi.

Rembuk stunting yang digelar bersamaan seolah menjadi pengakuan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.

“Penanganan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak,” ujar Rahmat Hidayat. Pernyataan itu sederhana, tetapi menyimpan tantangan besar. Sebab tanpa kolaborasi nyata dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat. Stunting akan terus menjadi siklus yang berulang.

Di akhir kegiatan, penandatanganan berita acara dilakukan sebagai simbol komitmen bersama. Namun publik kini tidak lagi hanya menilai dari seremoni.

Di tengah angka stunting yang meningkat, yang dibutuhkan bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan keberanian untuk mengeksekusi dan membuktikan bahwa pembangunan benar-benar berpihak pada masa depan.(bay).