Jakarta – Pemerintah Indonesia terus meningkatkan koordinasi lintas instansi guna memastikan keamanan pelayaran kapal nasional yang melintas di kawasan Teluk Persia, khususnya melalui jalur strategis Selat Hormuz.
Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute energi terpenting di dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak—setara 20% konsumsi global—melewati perairan tersebut setiap hari. Karena itu, potensi gangguan seperti konflik antara Amerika Serikat dan Iran Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa sekitar 20–25% kebutuhan minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah dan dikirim melalui Selat Hormuz. Sementara itu, pasokan lainnya diperoleh dari berbagai negara seperti di Afrika, Amerika, hingga Brasil.
Meski demikian, Indonesia tidak mengimpor bensin dari wilayah tersebut. Untuk kebutuhan LPG, sekitar 30% pasokan berasal dari Saudi Aramco, sementara sisanya dipenuhi dari Amerika Serikat. Total impor LPG Indonesia sendiri mencapai 7,8 juta ton pada tahun ini.
Data dari Pertamina
Dari sisi perusahaan energi nasional, Pertamina menyebutkan bahwa sekitar 19% impor minyak Indonesia berasal dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz. Perusahaan juga telah menyiapkan berbagai skema distribusi, termasuk jalur alternatif dan darurat, guna menjaga pasokan energi tetap aman.
Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, langkah tersebut penting untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi dalam berbagai situasi.
Koordinasi Pemerintah
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyampaikan bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia guna memastikan keamanan pelayaran kapal Indonesia di kawasan tersebut. Selain muatan, keselamatan awak kapal menjadi perhatian utama.
Di sisi lain, Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyebutkan bahwa pihaknya bersama Kedutaan Besar RI di Teheran telah menjalin komunikasi intensif dengan otoritas terkait di Iran. Hasilnya, terdapat respons positif yang kini sedang ditindaklanjuti secara teknis.
Upaya Menjaga Ketahanan Energi
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga mulai memperluas sumber impor energi dari berbagai kawasan di luar Timur Tengah. Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi pasokan.
Sebagai gambaran, sepanjang 2025 Indonesia mengimpor sekitar 135,33 juta barel minyak mentah. Sekitar 19% di antaranya berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya dipasok dari berbagai wilayah seperti Afrika, Amerika Latin, Malaysia, hingga negara lainnya. Indonesia juga menjalin kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia untuk memenuhi kebutuhan BBM.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan energi nasional, meskipun dinamika geopolitik global terus berkembang.(BY)






