Radar Rp28 Miliar di Pariaman Benteng Baru Lawan Tsunami

Kota Pariaman – Langit Pariaman seperti menyimpan pesan yang tak bisa lagi diabaikan. Di tengah ancaman megathrust yang membayangi pesisir Sumatera Barat, langkah Yota Balad menerima kunjungan Eko Prasetyo menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ini adalah alarm kesadaran akan keselamatan ribuan jiwa di garis pantai.

Di Pantai Taman Anas Malik, Kelurahan Lohong, Pariaman Tengah, Kota Pariaman berdiri sebuah teknologi yang tak biasa High Frequency (HF) Radar. Diam, kokoh, namun menyimpan kemampuan membaca gelombang laut hingga jauh ke tengah samudra.

Bersama Kalaksa BPBD Kota Pariaman, Ferry Ferdian Bagindo Putra, rombongan meninjau kesiapan alat yang digadang-gadang menjadi “mata” baru bagi sistem mitigasi bencana daerah.

Nilainya tidak main-main sebesar Rp28 miliar, bantuan dari Prancis. Namun lebih dari angka, yang dipertaruhkan adalah rasa aman masyarakat.

HF Radar ini bukan sekadar alat, melainkan bagian dari sistem Early Warning System (EWS) yang mampu mendeteksi potensi tsunami, membaca arah arus laut, hingga memantau gelombang ekstrem secara real time.

Yota Balad tak menutupi rasa syukurnya. Ia menyebut, keberadaan radar ini adalah langkah besar bagi Pariaman, kota kecil yang berdiri di atas ancaman besar.

“Alat ini sangat penting, apalagi kita berada di wilayah rawan megathrust Siberut,” ujarnya, menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Namun di balik optimisme itu, terselip pertanyaan yang tak kalah penting. Apakah teknologi ini akan benar-benar dioptimalkan, atau justru berhenti sebagai simbol kemajuan?

Sebab sejarah mencatat, banyak alat canggih yang akhirnya terbengkalai karena minimnya perawatan dan kesiapan sumber daya manusia.

HF Radar ini rencananya akan diresmikan tepat pada Hari Ulang Tahun ke-24 Kota Pariaman, 2 Juli 2026. Momentum itu diharapkan bukan sekadar perayaan, tetapi juga penegasan komitmen bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama, bukan sekadar proyek prestisius.

Lebih jauh, manfaatnya tak hanya soal mitigasi bencana. Bagi nelayan, teknologi ini bisa menjadi penentu arah hidup. Memberi informasi keberadaan ikan, membaca kondisi laut, hingga mengurangi risiko melaut di tengah cuaca ekstrem. Di titik ini, HF Radar menjelma bukan hanya sebagai pelindung, tetapi juga penggerak ekonomi.

Kini, harapan itu berdiri di tepi pantai. Antara ancaman dan peluang. Antara kesiapan dan kelalaian. Dan di sanalah Pariaman diuji. Apakah mampu menjadikan teknologi ini sebagai benteng nyata, atau sekadar monumen mahal di bibir samudra.(mak).