Kotim  

Banjir Parah di Utara Kotim, BPBD Turun Tangan Lintas Sektor

Sampit, fajarharapan.id  – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memperkuat koordinasi lintas instansi untuk menangani banjir yang meluas di sejumlah wilayah, khususnya di bagian utara daerah tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Jumat (5/12/2025) menyampaikan, tim telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak, terutama di Kecamatan Tualan Hulu yang saat ini menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan.

Di Desa Luwuk Sampun, genangan air merendam badan jalan sepanjang kurang lebih 300 hingga 350 meter. Kedalaman air tercatat mencapai 120–130 sentimeter, membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas.

Menyikapi kondisi tersebut, BPBD segera berkoordinasi dengan PLN Ranting Sampit setelah diketahui satu unit trafo di Desa Tumbang Mujam ikut terendam banjir. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko gangguan kelistrikan maupun potensi bahaya.

Selain itu, BPBD juga berkoordinasi dengan pemerintah desa terdampak serta Balai Wilayah Sungai Kalimantan II di Palangka Raya. Upaya dilakukan agar pelayanan dasar masyarakat tetap berjalan, termasuk dengan memaksimalkan transportasi sungai sebagai jalur alternatif.

Sektor pendidikan tak luput dari perhatian. Banjir turut mengganggu kegiatan belajar mengajar, salah satunya di SDN 3 Tanjung Jariangau yang dikepung air setinggi 70–80 sentimeter.

Hasil peninjauan lapangan akan dilaporkan kepada bupati sebagai bahan pertimbangan penetapan status siaga. Apalagi, prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan dengan intensitas menengah yang masih bisa memperluas dampak banjir.

Dalam sepekan terakhir, BPBD mencatat sejumlah desa terdampak, di antaranya Desa Tumbang Mujam, Merah, dan Luwuk Sampun di Kecamatan Tualan Hulu. Selain itu, Desa Rantau Suang di Kecamatan Telaga Antang, serta Desa Tanjung Jariangau dan Kelurahan Kuala Kuayan di Kecamatan Mentaya Hulu juga terendam.

Meski Desa Rantau Suang mulai surut, desa lain masih terendam dengan ketinggian air antara 40 hingga 130 sentimeter. Beberapa akses jalan terputus total akibat tingginya muka air.

Di Desa Merah, jalan poros desa sepanjang 400–500 meter terendam setinggi 60–100 sentimeter. Sementara di Tumbang Mujam, akses jalan melalui area perkebunan menuju desa terendam hingga setinggi pinggang orang dewasa.

Sekitar 50 kepala keluarga di Desa Luwuk Sampun terdampak langsung. Warga kini mengandalkan perahu untuk mobilitas sehari-hari, meski aktivitas menjadi sangat terbatas.

Tim Reaksi Cepat BPBD mendapati warga harus berjalan kaki menembus banjir untuk berbelanja. Tenaga kesehatan di Tumbang Mujam juga terpaksa menggunakan perahu kayu saat memberikan layanan medis ke rumah warga.

BPBD bahkan membantu warga Desa Merah menyeberang menggunakan perahu karet karena adanya kegiatan ibadah di gereja. Hingga kini belum ada laporan pengungsian, karena warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing.(*)