Demokrat Kuasai Kongres AS, Wall Street Bergairah dan Harga Minyak Dunia Merosot

Hasil Kongres AS pemilu sela yang berujung pada kemenangan Partai Demokrat atas Partai Republik.
Hasil Kongres AS pemilu sela yang berujung pada kemenangan Partai Demokrat atas Partai Republik.
Jakarta, fajarharapan.id – Hasil pemilu sela Amerika Serikat (AS) yang berujung pada kemenangan Partai Demokrat atas Partai Republik membawa perubahan signifikan terhadap sentimen pasar global. Bursa saham Wall Street mengalami lonjakan tajam, sementara harga minyak dunia justru terus melemah di tengah harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Demokrat berhasil merebut mayoritas di dua kamar Kongres AS. Berdasarkan penghitungan suara Associated Press (AP) hingga Kamis (5/11/2026) sore, Demokrat memperoleh 240 kursi DPR, sedangkan Partai Republik mengamankan 147 kursi.

Di Senat, Demokrat menguasai 54 kursi dan Republik mendapatkan 44 kursi. Sementara pada pemilihan gubernur, Demokrat meraih kemenangan di 28 kursi, berbanding 20 kursi yang diperoleh Republik.

Kemenangan tersebut langsung disambut positif oleh pelaku pasar keuangan. Pada perdagangan Rabu (4/11/2026), sejumlah indeks utama Wall Street mencatatkan penguatan signifikan.

Dow Jones Industrial Average mengalami lonjakan sebesar 3,03 persen atau 1.569,40 poin menjadi 53.356,12. Kenaikan ini tercatat sebagai performa harian terbaik indeks tersebut sejak Presiden Donald Trump menunda kebijakan tarif impor besar-besaran pada April 2025.

Penguatan juga terjadi pada indeks S&P 500 yang naik 1,58 persen dan Nasdaq Composite sebesar 1,44 persen.

Sejumlah perusahaan teknologi besar turut menikmati sentimen positif tersebut. Saham Amazon naik sekitar 6 persen, Alphabet menguat lebih dari 4 persen, sedangkan Apple melonjak 5,75 persen hingga mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa.

Namun, situasi berbeda dialami Trump Media & Technology Group (DJT), perusahaan yang menaungi platform Truth Social milik Presiden Donald Trump. Saham perusahaan itu terpuruk lebih dari 12 persen.

Selama ini, pergerakan saham Trump Media kerap dikaitkan dengan sentimen politik dan persepsi investor terhadap pengaruh Trump di Amerika Serikat.

Penguatan pasar juga merambah berbagai sektor di luar teknologi. Sektor barang konsumsi nonprimer menjadi salah satu pendorong utama S&P 500, diikuti jasa komunikasi. Sektor keuangan, properti, kesehatan, dan barang konsumsi primer turut mengalami kenaikan.

Harga Minyak Tertekan Konflik Iran

Di tengah euforia pasar saham, harga minyak mentah dunia justru melanjutkan tren penurunan selama empat hari berturut-turut pada Kamis (5/11/2026).

Data perdagangan pukul 02.11 GMT menunjukkan minyak mentah Brent turun 97 sen atau 1,03 persen menjadi 93,65 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat melemah lebih dalam, yakni 1,14 dolar AS atau 1,29 persen ke posisi 86,98 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar setelah Demokrat menguasai Kongres. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan strategi politik pemerintahan Trump, terutama dalam menghadapi konflik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut dinilai dapat mempersempit ruang gerak Trump dalam menentukan kebijakan luar negeri, mengingat Kongres baru dijadwalkan mulai bekerja pada 3 Januari 2027.

Dengan Demokrat menguasai DPR dan Senat, tekanan politik terhadap pemerintahan Trump diperkirakan meningkat. Pasar pun mulai berspekulasi bahwa Washington akan lebih mengutamakan diplomasi untuk mengurangi ketegangan dengan Iran.

Analis minyak senior Sparta Commodities, June Goh, mengatakan pelaku pasar saat ini sedang mencermati kemungkinan berakhirnya konflik Iran.

“Pasar sedang menilai langkah selanjutnya yang akan diambil Trump terkait perang Iran, dan memperhitungkan kemungkinan perang akan segera berakhir,” ujarnya, dikutip Reuters, Kamis (5/11/2026).

Trump Akui Kekalahan, Namun Siapkan Hak Veto

Presiden Donald Trump telah menyampaikan ucapan selamat kepada Partai Demokrat atas kemenangan dalam pemilu sela. Ia juga mengakui bahwa persoalan perang Iran turut memengaruhi kekalahan Partai Republik.

Trump menyatakan menerima hasil pemungutan suara dan membuka peluang bekerja sama dengan Demokrat. Meski demikian, ia menegaskan tetap akan menggunakan hak veto terhadap rancangan undang-undang yang diajukan kubu lawan.

“Mereka bisa saja mengajukan, katakanlah, 50 rancangan undang-undang hebat yang mereka banggakan, lalu saya akan mengembalikannya dengan stempel khusus veto,” kata Trump, dikutip AFP, Rabu (4/11/2026).

Trump juga memperingatkan Demokrat agar tidak memanfaatkan kemenangan tersebut untuk melancarkan upaya pemakzulan terhadap dirinya.

Menurut Trump, langkah tersebut justru berpotensi merugikan Demokrat secara politik.

“Menurut saya, jika mereka melakukan pemakzulan, Partai Demokrat justru akan hancur,” ujarnya, dikutip Anadolu, Kamis (5/11/2026).

Kekalahan Republik Picu Gejolak Internal

Kekalahan dalam pemilu sela turut memicu dinamika politik di internal Partai Republik. Ketua DPR AS Mike Johnson dilaporkan mengundurkan diri dari posisi pemimpin partai setelah hasil pemilu menunjukkan kekalahan telak kubunya.

Johnson selama ini menjadi salah satu figur penting Partai Republik setelah Trump dan Wakil Presiden JD Vance.

Sementara itu, dari kubu Demokrat, Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries telah meminta dukungan rekan-rekannya untuk menduduki posisi Ketua DPR AS berikutnya.

Jika berhasil terpilih, Jeffries akan mencatat sejarah sebagai warga kulit hitam pertama yang menjabat Ketua DPR Amerika Serikat.

Jeffries menegaskan kemenangan Demokrat akan membawa perubahan dalam pengawasan terhadap pemerintahan Trump.

“Masa ketika DPR berfungsi seperti anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki pemerintahan Trump telah berakhir. Kami akan meminta para penjahat bertanggung jawab,” tegasnya.

Hasil pemilu sela tersebut kini menjadi perhatian dunia, bukan hanya karena perubahan peta kekuasaan politik AS, tetapi juga dampaknya terhadap pasar keuangan dan prospek stabilitas geopolitik global.(Ab)

 

Editor: Edwardi