Kuning Telur Berwarna Oranye, Berbahayakah? Ini Faktanya

Kuning telur yang berwarna oranye belum tentu berbahaya, dan sebaliknya, tak juga lebih bernutrisi. Perbedaan warna ini lebih dipengaruhi oleh pakan ayam.
Kuning telur yang berwarna oranye belum tentu berbahaya, dan sebaliknya, tak juga lebih bernutrisi. Perbedaan warna ini lebih dipengaruhi oleh pakan ayam.

Jakarta – Warna kuning telur yang ditemukan saat memecahkan telur untuk dimasak bisa berbeda-beda. Sebagian telur memiliki kuning telur berwarna pucat, sementara lainnya tampak kuning cerah hingga oranye pekat.

Perbedaan warna tersebut kerap menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas dan keamanan telur. Ada anggapan bahwa kuning telur berwarna oranye menandakan telur sudah tidak layak dikonsumsi. Sebaliknya, sebagian orang meyakini warna yang lebih pekat menunjukkan kandungan gizi yang lebih tinggi.

Lantas, apakah kuning telur berwarna oranye berbahaya bagi kesehatan?

Pada dasarnya, warna oranye pada kuning telur merupakan variasi alami yang umumnya dipengaruhi oleh jenis pakan ayam. Warna tersebut tidak secara otomatis menunjukkan telur mengalami pembusukan ataupun memiliki kandungan nutrisi yang lebih unggul dibandingkan telur dengan kuning pucat.

Juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics di Amerika Serikat, Emma Laing, menjelaskan bahwa intensitas warna kuning telur berkaitan erat dengan makanan yang dikonsumsi ayam. Komposisi pakan, kandungan pigmen dari tumbuhan, hingga jumlah jagung dalam makanan ayam dapat memengaruhi warna yang dihasilkan.

Ayam yang memiliki kesempatan mencari makan di luar kandang, termasuk memakan rumput, tumbuhan, dan serangga, juga berpotensi menghasilkan telur dengan kuning yang lebih gelap. Selain faktor pakan, usia dan kondisi kesehatan ayam serta perubahan musim turut memengaruhi karakteristik telur.

Dengan demikian, kuning telur berwarna oranye tidak perlu langsung dianggap sebagai tanda kerusakan. Meski begitu, warna bukan satu-satunya patokan untuk memastikan telur aman dikonsumsi. Kesegaran, kondisi cangkang, cara penyimpanan, serta proses pengolahan tetap harus diperhatikan.

Empat faktor yang menentukan warna kuning telur

Warna kuning telur terbentuk melalui sejumlah faktor, tetapi jenis dan kandungan pakan menjadi penentu utamanya. Berikut beberapa hal yang memengaruhi perbedaan warna tersebut.

1. Pigmen alami dari tumbuhan

Salah satu penyebab kuning telur tampak lebih pekat adalah kandungan karotenoid dalam pakan ayam. Karotenoid merupakan kelompok pigmen alami yang ditemukan pada berbagai tumbuhan dan memiliki warna mulai dari kuning hingga oranye.

Beberapa contohnya adalah lutein yang terdapat dalam alfalfa dan zeaxanthin yang dapat ditemukan pada bunga marigold. Pigmen tersebut dapat diserap oleh tubuh ayam dan berkontribusi terhadap warna kuning telur.

Sunoh Che, asisten profesor bidang manajemen unggas di University of Maryland, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa jumlah pigmen dalam makanan ayam memiliki pengaruh besar terhadap intensitas warna kuning telur.

Semakin banyak pigmen tertentu yang tersedia dan dapat diserap dari pakan, semakin besar pula kemungkinan kuning telur memiliki warna yang lebih kuat.

2. Komposisi jagung dalam makanan ayam

Jagung menjadi salah satu bahan yang lazim digunakan dalam pakan ayam petelur. Bahan pangan ini turut menyumbang pigmen yang memengaruhi warna kuning telur.

Richard Blatchford, peneliti di bidang unggas, menjelaskan kepada Food & Wine bahwa penggunaan pakan berbasis jagung menjadi salah satu alasan telur yang dijual di pasaran umumnya mempunyai warna kuning, tetapi tidak selalu oranye pekat.

Perbedaan komposisi pakan antarpeternakan membuat warna telur yang dihasilkan juga tidak selalu sama. Karena itu, telur dari dua ayam yang dipelihara dengan pola pemberian pakan berbeda bisa memiliki warna kuning yang berlainan.

3. Jenis dan kadar xantofil

Xantofil merupakan kelompok pigmen yang termasuk dalam keluarga karotenoid. Senyawa ini dapat ditemukan pada daun, biji-bijian, dan berbagai bahan tumbuhan lainnya.

Kandungan xantofil pada setiap bahan pakan tidak sama. Jenis tumbuhan, kadar pigmen, serta jumlah bahan yang diberikan kepada ayam dapat memengaruhi hasil akhirnya.

Perbedaan inilah yang membuat warna kuning telur dapat terlihat lebih pucat, kuning terang, atau cenderung oranye.

4. Kesempatan ayam mencari makan di luar kandang

Sistem pemeliharaan ayam juga dapat berpengaruh terhadap variasi warna kuning telur. Ayam yang memiliki akses ke rumput segar atau area penggembalaan berpotensi mengonsumsi makanan yang lebih beragam.

Selain pakan utama, ayam dapat memakan tumbuhan dan serangga yang mengandung zat gizi maupun pigmen alami. Kondisi tersebut bisa memengaruhi warna kuning telur yang dihasilkan.

Namun, ayam yang dipelihara di luar kandang tidak selalu menghasilkan kuning telur berwarna lebih oranye. Hasil akhirnya tetap bergantung pada jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi serta kemampuan tubuh ayam menyerap pigmen.

Apakah kuning telur oranye lebih sehat?

Warna kuning telur yang lebih pekat tidak dapat dijadikan bukti bahwa telur tersebut pasti lebih bergizi. Kandungan nutrisi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk komposisi pakan, kondisi ayam, dan karakteristik telur itu sendiri.

Emma Laing menjelaskan bahwa ayam yang memperoleh pakan kaya karotenoid atau memiliki kesempatan mengonsumsi makanan yang lebih beragam mungkin menghasilkan telur dengan kandungan nutrisi tertentu yang lebih tinggi. Namun, kemungkinan tersebut tidak bisa dipastikan hanya dengan melihat warna kuning telurnya.

Secara umum, telur merupakan sumber protein dan lemak, serta mengandung berbagai vitamin, mineral, kolin, lutein, dan zeaxanthin. Zat gizi tersebut berperan dalam mendukung fungsi tubuh, termasuk kesehatan otot, fungsi saraf, dan kesehatan mata.

Perbedaan warna kuning telur tidak serta-merta menunjukkan adanya perbedaan besar dalam seluruh kandungan nutrisi. Karena itu, konsumen sebaiknya tidak menjadikan warna sebagai satu-satunya dasar untuk memilih telur yang dianggap paling sehat.

Cara memastikan telur layak dikonsumsi

Alih-alih hanya memperhatikan warna kuning telur, konsumen perlu memeriksa kondisi telur secara keseluruhan. Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:

Periksa cangkang: Hindari telur dengan cangkang retak atau rusak karena kerusakan dapat meningkatkan risiko kontaminasi.

Perhatikan aroma: Bau tidak sedap setelah telur dipecahkan dapat menjadi tanda kerusakan.

Simpan dengan benar: Telur perlu disimpan pada suhu yang sesuai dan tidak dibiarkan terlalu lama dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri.

Masak hingga matang: Memasak telur hingga bagian putih dan kuningnya matang membantu mengurangi risiko infeksi bakteri, termasuk Salmonella.

Perlu diingat, telur yang terlihat normal dan tidak berbau belum tentu bebas dari bakteri berbahaya. Oleh sebab itu, kebersihan, penyimpanan yang tepat, dan proses pemasakan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pangan.

Kesimpulannya, kuning telur berwarna oranye pada umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Warna tersebut lebih banyak berkaitan dengan pigmen dalam pakan ayam, bukan penanda langsung bahwa telur sudah busuk atau memiliki kualitas gizi yang lebih tinggi.

Selama telur ditangani dengan benar, disimpan secara tepat, dan dimasak hingga matang, variasi warna kuning telur bukan alasan untuk menghindari konsumsinya.(BY)