Padang – Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik I di Sumatera Barat terus berjalan. Pemerintah Kota Padang bersama sejumlah pemangku kepentingan melakukan peninjauan untuk mengevaluasi progres pekerjaan sekaligus mengantisipasi dampak lingkungan yang berpotensi muncul selama proyek berlangsung.
Peninjauan tersebut dilakukan Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa, bersama Anggota Komisi V DPR RI, Zigo Rolanda, dalam agenda kunjungan kerja reses pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan PT Hutama Karya sebagai pelaksana pembangunan.
Dalam kunjungan itu, Pemko Padang menyoroti dua persoalan penting yang perlu mendapat perhatian. Pertama, percepatan pembebasan lahan tahap kedua yang melibatkan tujuh persil tanah. Proses tersebut kini memasuki tahapan penetapan lokasi agar pelaksanaan pembangunan dapat berjalan sesuai jadwal.
Raju Minropa mengatakan, kunjungan kerja tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung perkembangan pembangunan sekaligus mengidentifikasi kendala yang berpotensi menghambat pekerjaan.
Ia berharap proses pembebasan lahan dapat diselesaikan tanpa hambatan berarti sehingga tahapan pembangunan berikutnya bisa terlaksana sesuai rencana.
Persoalan kedua yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah perlindungan fasilitas pengambilan air baku atau intake serta keberlangsungan pasokan air bersih bagi masyarakat. Langkah ini diperlukan untuk menjaga agar aktivitas konstruksi tidak mengganggu proses pengolahan dan distribusi air yang dikelola Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda Air Minum) Kota Padang.
Anggota Komisi V DPR RI, Zigo Rolanda, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan perlindungan kepentingan masyarakat. Menurutnya, koordinasi antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, balai terkait, dan pihak pelaksana proyek menjadi faktor penting untuk memastikan pembangunan flyover selesai tepat waktu.
Ia juga menilai perlu adanya pembahasan bersama untuk mencari solusi terhadap sejumlah persoalan yang muncul, terutama potensi dampak pekerjaan terhadap ketersediaan air baku di Kota Padang.
Mengantisipasi peningkatan curah hujan yang dapat memperbesar risiko aliran lumpur ke sungai, Zigo meminta PT Hutama Karya meningkatkan upaya pengendalian sedimen di kawasan hulu yang berdekatan dengan lokasi pembangunan.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi tingkat kekeruhan air sungai agar proses produksi air bersih tidak terganggu dalam waktu lama.
Dalam penanganannya, PT Hutama Karya telah membangun fasilitas penahan sedimen atau sediment trap. Selain itu, kontraktor didorong menambah kolam penampungan di sekitar titik penggalian dan pembangunan tiang untuk mencegah material tanah terbawa langsung ke aliran sungai.
PT Hutama Karya juga menyatakan kesiapan untuk melakukan penanganan tambahan apabila tingkat kekeruhan air atau Nephelometric Turbidity Unit (NTU) mengalami peningkatan signifikan akibat aktivitas konstruksi.
Dukungan tersebut mencakup pemberian subsidi bahan kimia untuk membantu proses penjernihan air di Perumda Air Minum Kota Padang. Selain itu, perusahaan akan menyediakan peralatan gantry guna menunjang kegiatan pembersihan material.
Melalui koordinasi antara pemerintah daerah, DPR RI, dan pelaksana proyek, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik I diharapkan dapat berlangsung sesuai target tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan maupun kebutuhan masyarakat terhadap layanan air bersih.(Rey)
Editor: Edwardi







