Kota Pariaman – Bukan konser, bukan pula pesta akbar. Namun pada Minggu (13/9/2026), kawasan wisata Pantai Kata, Kota Pariaman, Sumatera Barat berubah menjadi lautan manusia dan roda.
Sekitar 1.500 goweser menyerbu Pariaman yang bertajuk “Fun and Adventure Padati Marancah III”, menciptakan pemandangan spektakuler. Dan, sekaligus mengirim sinyal dan pesan keras. Olahraga kini sedang dipakai Pariaman untuk memburu denyut baru pariwisata dan ekonomi daerah.
Ribuan pesepeda itu datang bukan sekadar mengejar tanjakan, menikmati jalur, lalu pulang. Di balik kayuhan mereka, ada pertaruhan besar pemerintah daerah untuk menjadikan sport tourism sebagai mesin penggerak wisata Kota Pariaman.
Event yang dibuka Wali Kota Pariaman Yota Balad bersama Wakil Wali Kota Mulyadi itu pun menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa olahraga bisa disulap menjadi magnet yang menyeret wisatawan dan perputaran ekonomi sekaligus.
Angkanya membuat target awal terlampaui. Yota Balad menyebut jumlah peserta mencapai kurang lebih 1.500 orang.
Antusiasme tersebut menjadi modal kuat bagi Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman untuk mendorong event tahunan ini naik kelas. Lebih besar, lebih meriah, dan mampu mengundang semakin banyak orang dari luar daerah.
Tetapi kemeriahan itu tak boleh berhenti sebagai foto, seremoni, dan roda yang berputar sehari. Tantangan sebenarnya justru dimulai setelah ribuan goweser meninggalkan Pariaman.
Pemerintah daerah ingin ledakan kunjungan itu meninggalkan jejak ekonomi bagi masyarakat, mulai dari hotel, homestay hingga pelaku UMKM lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari geliat wisata.
“Alhamdulillah peserta yang hadir mencapai kurang lebih 1.500 orang. Kami berharap ke depan kegiatan ini bisa lebih meriah lagi. Menarik lebih banyak pengunjung, serta memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Kota Pariaman khususnya bagi pengelola perhotelan, homestay, serta para pelaku UMKM lokal,” ujar Yota.
Namun ada satu pertaruhan lain yang tak kalah penting. Yakni keselamatan. Ancaman cuaca menjelang pelaksanaan tidak diabaikan begitu saja.
Panitia bersama Pemko Pariaman berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan BPBD untuk memastikan keamanan peserta, sekaligus mengecek kelayakan jalur yang dilalui ribuan goweser.
Sebab, event besar tanpa kesiapan keselamatan hanya akan menjadi bom waktu.
Kini bola berada di tangan Pemko Pariaman. 1.500 goweser telah membuktikan bahwa magnet itu ada.
Tinggal bagaimana momentum tersebut dikonversi menjadi agenda sport tourism yang konsisten, mendatangkan lebih banyak wisatawan, menghidupkan UMKM, mengisi hotel dan homestay, serta membuat Kota Pariaman semakin sulit diabaikan dari peta destinasi wisata olahraga nasional.
Pada hari ini roda sepeda yang berputar. Besok, dan lusa seterusnya yang diharapkan ikut berputar adalah roda ekonomi Pariaman.(mak).







