PADANG PARIAMAN – Harapan 47 keluarga di Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, untuk memiliki hunian yang layak dan aman mulai menemukan titik terang.
Pemerintah memastikan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) segera diwujudkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan tempat tinggal yang lebih aman, nyaman, dan manusiawi bagi masyarakat terdampak.
Bukan sekadar membangun dinding dan atap, Huntap kali ini membawa pertaruhan lebih besar. Mengembalikan rasa aman masyarakat di tengah bayang-bayang ancaman bencana.
Rumah yang dibangun diharapkan menjadi tempat keluarga kembali menata kehidupan, bukan sekadar bangunan baru yang berdiri tanpa makna.
Kepastian itu disampaikan Kepala Satuan Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang Pariaman, Emri Nurman, saat dihubungi awak media ini, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, sebanyak 47 calon penerima telah mengikuti sosialisasi pembangunan Huntap sebagai tahapan penting sebelum pembangunan direalisasikan.
Dari 47 calon penerima tersebut, sebanyak 39 warga berasal dari Nagari Anduriang, empat warga Nagari Guguak, tiga warga Nagari Kayu Tanam, dan satu warga Nagari Sicincin.
Mereka kini menanti rumah yang bukan hanya layak ditempati, tetapi juga mampu memberikan perlindungan dan kepastian bagi keluarga masing-masing.
Sosialisasi menjadi bagian krusial agar pembangunan tidak berjalan sekadar mengejar target fisik.
Pemerintah ingin memastikan para calon penerima memahami proses pembangunan sekaligus memastikan hunian yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
Di titik inilah suara warga menjadi penting. Sebab rumah adalah tempat kehidupan berlangsung, bukan sekadar angka dalam laporan proyek.
Pembangunan Huntap tersebut turut melibatkan Semen Padang sebagai pihak pelaksana dengan menggunakan teknologi Sepablok.
Teknologi itu menjadi bagian dari ikhtiar mempercepat terwujudnya hunian bagi masyarakat, sementara pemerintah didorong untuk memastikan seluruh proses berjalan transparan, tepat sasaran, dan tidak menyisakan persoalan baru bagi warga penerima.
Kini, 47 keluarga menunggu janji itu berubah menjadi kenyataan. Jika pembangunan berjalan lancar, Huntap bukan hanya akan menjadi alamat baru, melainkan simbol bahwa setelah terpukul bencana, masyarakat Padang Pariaman masih punya alasan untuk bangkit.
Rumah-rumah itu kelak akan diuji bukan oleh seremoni peresmian, tetapi oleh satu pertanyaan sederhana: apakah benar mampu membuat 47 keluarga hidup lebih aman, nyaman, dan bermartabat? (bay).







