Muba  

Sumsel Dikepung Titik Api, 11.567 Personel BNPB Dikerahkan Hadapi Ancaman Karhutla

Karhutla terus mengancam Sumsel.
Karhutla terus mengancam Sumsel.

Palembang, fajarharapan.id – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus berlanjut. Memasuki periode kemarau, pemerintah memperbesar kekuatan di lapangan dengan mengerahkan ribuan personel serta armada udara untuk memburu titik api sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

BNPB bersama Satgas Karhutla Sumsel kini menggelar operasi secara simultan dari darat dan udara. Langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat pemadaman, mencegah munculnya kembali bara di kawasan gambut serta mengantisipasi dampak asap terhadap masyarakat.

Berdasarkan pemantauan hingga 30 Agustus 2026, masih terdapat sekitar 67,06 hektare area yang membutuhkan penanganan dan pengawasan. Tim patroli udara mendeteksi 11 titik api dengan perkiraan luasan 45 hektare, sementara tim Satgas Darat menemukan area sekitar 22,06 hektare melalui pengecekan langsung ke lapangan.

Kondisi di lapangan membuat strategi pemadaman harus dilakukan secara berlapis. Setelah api berhasil dijinakkan, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi. Proses pendinginan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersimpan di dalam tanah, terutama pada lahan gambut yang berpotensi kembali terbakar ketika terkena panas dan angin.

Kepala BNPB Suharyanto menyebut kekuatan personel darat merupakan komponen penting dalam memutus rantai kebakaran. Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Masyarakat Peduli Api, relawan dan unsur swasta dikerahkan secara bersama-sama untuk mempercepat penanganan.

Dari operasi yang telah berjalan, tim gabungan berhasil menangani sekitar 18,36 hektare lahan. Sebanyak 15,86 hektare ditangani melalui pemadaman dari darat, sedangkan 2,5 hektare lainnya mendapat intervensi water bombing. Setelah pemadaman, petugas masih berkonsentrasi melakukan cooling down terhadap area sekitar 48,7 hektare.

Beberapa daerah menjadi fokus pengawasan karena masih ditemukan titik api. OKI menjadi salah satu wilayah prioritas dengan lima titik yang mencakup sekitar 21 hektare, terutama di Kota Bumi dan Tulung Selapan. Di Musi Banyuasin terdapat satu titik seluas tujuh hektare di Lalan yang menjadi perhatian karena berada di kawasan gambut tebal dengan kondisi angin cukup kuat.

Selain kedua wilayah tersebut, dua titik terpantau di Muara Enim dengan luasan sekitar 11 hektare. Sementara itu, masing-masing satu titik juga ditemukan di Musi Rawas Utara, OKU Timur, OKU dan Ogan Ilir dengan luasan sekitar tiga hingga empat hektare.

Kekuatan personel yang berada di lapangan mencapai 11.567 orang. Mereka terdiri atas unsur TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Basarnas, Masyarakat Peduli Api, relawan hingga perusahaan swasta. Jumlah besar tersebut diperlukan karena sebagian lokasi kebakaran sulit dijangkau kendaraan dan memiliki keterbatasan sumber air.

Dukungan logistik juga diberikan kepada tujuh BPBD yang berada di wilayah terdampak, yakni Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Palembang, PALI, Muara Enim dan OKI. Peralatan yang disalurkan antara lain APD karhutla, selang, pompa jinjing, pompa bertekanan tinggi, nozzle dan flexible tank.

Di sektor udara, sembilan armada dari total 32 armada nasional disiagakan untuk memperkuat operasi Sumsel. Pesawat Cessna 208 Caravan telah menjalankan 27 sortie OMC dengan menebar 27.000 kilogram bahan semai untuk mendukung upaya pengendalian cuaca.

Patroli udara juga terus dilakukan. Helikopter AS365 N2 dan Cessna 208B telah menghabiskan lebih dari 439 jam terbang untuk memantau dan memetakan titik panas. Sementara itu, helikopter Blackhawk, MI-8 dan Super Puma telah menjalankan lebih dari 237 sortie water bombing di sejumlah kawasan rawan.

Kerja keras tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan luas kebakaran dalam beberapa tahun terakhir. Data menunjukkan area terbakar di Sumsel turun tajam, dari 264.165,68 hektare pada 2023 menjadi 30.844,96 hektare pada 2024 dan kembali turun menjadi 11.879,56 hektare pada 2025.

Meski tren kebakaran menurun, persoalan asap tetap menjadi perhatian. Pemantauan kualitas udara di Kota Palembang pada 30 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB menunjukkan angka ISPU/AQI mencapai 247 atau kategori sangat tidak sehat.

BNPB mengingatkan warga agar tidak menganggap remeh kondisi tersebut. Aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara memburuk, khususnya bagi anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan dan jantung. Penggunaan masker berstandar medis seperti N95 juga dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar.

Pemerintah memastikan operasi penanganan karhutla belum akan dihentikan. Seluruh unsur Satgas tetap disiagakan untuk memantau titik rawan, melakukan pemadaman dan pendinginan hingga api benar-benar terkendali. Masyarakat pun diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar agar ancaman karhutla tidak kembali meluas.(Fatih)