Padang – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Wahid Al Amin setelah putrinya, NH (10), siswi kelas 3 SD Negeri 33 Rawang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, meninggal dunia pada Jumat (24/7/2026). Setiap mengenang sang anak, Wahid mengaku tidak mampu menahan tangis.
Di balik kepergian NH, keluarga menduga terdapat rangkaian peristiwa yang selama ini tidak terungkap. Mereka meyakini korban telah mengalami dugaan perundungan sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD, yang diduga berujung pada cedera serius hingga merenggut nyawanya.
Meski demikian, pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang menyatakan hingga saat ini belum menemukan bukti yang dapat memastikan adanya tindakan perundungan sebagaimana yang disampaikan pihak keluarga.
Wahid menceritakan, perubahan perilaku putrinya mulai terlihat sepulang dari sekolah. Anak yang biasanya ceria mendadak menjadi pendiam, tampak murung, dan menunjukkan raut ketakutan.
Menurutnya, kondisi NH semakin memburuk pada sore hari. Keluarga sempat memberikan obat, namun keluhan yang dialami sang anak tidak kunjung mereda.
Keesokan harinya, NH mengeluhkan nyeri hebat di bagian pinggang sehingga tidak diizinkan masuk sekolah. Rasa sakit tersebut terus bertambah parah. Pada Rabu, korban mengalami demam tinggi dan kesulitan menggerakkan tubuh akibat nyeri yang dirasakan.
Keluarga bahkan mengalami kesulitan saat membawa NH ke rumah sakit karena setiap kali tubuhnya dipindahkan, ia terus mengaduh kesakitan.
Setelah menjalani perawatan intensif, tim medis disebut tidak menemukan luka memar ataupun bekas benturan di bagian luar tubuh korban. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya cedera serius pada bagian dalam tubuh.
Berdasarkan keterangan keluarga, pemeriksaan medis mengindikasikan adanya pergeseran tulang di area pinggang yang diduga terjadi akibat benturan keras.
Wahid menduga cedera tersebut terjadi setelah putrinya didorong oleh seorang siswa di lingkungan sekolah hingga bagian pinggangnya membentur lantai atau struktur beton.
Ia juga mengungkapkan bahwa dugaan kekerasan tersebut bukan pertama kali dialami NH. Menurutnya, sang anak telah beberapa kali menjadi korban perundungan sejak kelas 1 hingga kelas 3 SD, dengan dugaan pelaku yang sama.
Karena merasa anaknya terus menjadi sasaran, Wahid mengaku telah berulang kali mendatangi pihak sekolah untuk meminta perlindungan dan penanganan yang lebih serius. Bahkan, ia pernah terlibat adu argumen dengan kepala sekolah agar persoalan tersebut segera diselesaikan.
“Saya pernah bersitegang dengan kepala sekolah karena kasus yang menimpa anak kami. Saat itu pihak sekolah menyampaikan bahwa persoalan tersebut akan ditangani karena dianggap sebagai masalah internal sekolah,” kata Wahid.(des*)







