Hukrim  

Cinta Berujung Maut, Anak Punk di Bekasi Tewas Ditusuk Rekannya karena Rebutan Perempuan

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta – Perselisihan yang dipicu persoalan asmara berujung tragis di wilayah Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Dua pria yang sama-sama berprofesi sebagai anak punk terlibat perkelahian hingga salah satunya meninggal dunia akibat luka tusuk, Sabtu (27/6/2026) sekitar pukul 04.00 WIB.

Insiden tersebut diduga bermula karena keduanya memperebutkan perempuan yang sama. Korban berinisial FA kehilangan nyawa setelah mengalami beberapa luka tusuk di tubuhnya.

Kapolsek Cikarang Barat, Kompol Dimas Adhit Putranto, mengungkapkan bahwa setelah menerima laporan mengenai dugaan penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia, polisi bersama tim Satreskrim Polres Metro Bekasi segera mendatangi lokasi kejadian. Petugas kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengamankan sejumlah barang bukti, serta meminta keterangan dari para saksi.

Usai melakukan penusukan, pelaku melarikan diri ke wilayah Tambelang. Namun, pelariannya tidak berlangsung lama karena tim Buser Polsek Cikarang Barat berhasil menangkapnya dalam waktu singkat.

Saat ini penyidik masih mendalami kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi guna mengungkap secara lengkap kronologi kejadian. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban mengalami luka tusuk di bagian dada sebelah kiri dan perut. Sementara itu, informasi dari warga sekitar menyebutkan terdapat sekitar lima luka tusuk pada tubuh korban.

Ketua RT setempat, Boy Sandi, mengatakan perselisihan antara korban dan pelaku sebenarnya telah berlangsung sejak sehari sebelum kejadian. Berdasarkan informasi yang diterimanya, keduanya sempat terlibat cekcok di kawasan Pasar Beras Cikarang Jati sebelum pertikaian berlanjut hingga ke wilayah Kalijaya.

Menjelang waktu subuh, warga melaporkan adanya keributan kepada pengurus lingkungan. Ketika Boy bersama warga tiba di lokasi, korban telah dievakuasi menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Boy menjelaskan bahwa baik korban maupun pelaku dikenal sebagai pengamen yang hidup di lingkungan anak punk. Ia menduga pertikaian dipicu rasa cemburu terhadap seorang perempuan yang juga dikenal di kawasan tersebut.

Korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara perempuan yang diduga menjadi penyebab perselisihan diketahui telah tinggal di lingkungan itu sekitar delapan bulan dengan mengontrak sebuah rumah.

Selama menetap di kawasan tersebut, menurut Boy, perempuan itu tidak pernah menimbulkan masalah yang berarti. Paling jauh hanya terjadi perselisihan kecil dengan teman-temannya, dan baru kali ini konflik berujung pada jatuhnya korban jiwa.(des*)