FAJAR HARAPAN – Kenapa Nila anda lambat besar, bisa jadi disebabkan karena kesalahan pakan. Hal ini, membuat banyak pembudidaya nila gusar.
Dua kolam ditebar pada hari yang sama, dengan benih dari sumber yang sama, namun setelah dua bulan ukurannya jomplang.
Kolam pertama sudah mendekati ukuran konsumsi, sementara kolam kedua masih dipenuhi ikan seukuran jempol.
Pakan Ikan Nila biasanya menjadi dugaan pertama, padahal yang lebih sering keliru bukan pakannya, melainkan cara pakan itu diberikan.
Pertumbuhan yang merangkak jarang disebabkan satu hal besar; ia lebih sering merupakan akumulasi dari kesalahan kecil yang tidak menimbulkan kematian mendadak sehingga luput dari perhatian.
1. Pemberian Pakan Tidak Teratur
Kesalahan yang paling umum adalah memberi pakan terlalu jarang dengan porsi sekaligus banyak.
Nila, terutama pada fase muda, memiliki lambung kecil dan laju pencernaan cepat. Memberi makan hanya satu atau dua kali sehari memaksa ikan menahan lapar dalam rentang panjang, lalu menyantap berlebihan saat pakan datang, sebagian terbuang, sebagian memberatkan pencernaan.
Membagi ransum menjadi tiga hingga empat kali pemberian dengan porsi lebih kecil membuat penyerapan nutrisi jauh lebih efisien dan pertumbuhan lebih merata. Frekuensi, dalam banyak kasus, lebih menentukan kecepatan tumbuh dibanding jumlah total pakan.
2. Kadar Protein Pakan Tidak Sesuai
Kesalahan berikutnya menyangkut kadar protein yang tidak sepadan dengan fase ikan.
Demi berhemat, sebagian pembudidaya buru-buru memindahkan benih ke pakan pembesaran yang lebih murah dan rendah protein. Padahal di fase awal, protein adalah bahan baku utama pembentukan otot dan kerangka tubuh.
Kekurangan protein pada masa kritis ini menghasilkan ikan yang kerdil dan sulit dikejar pertumbuhannya, bahkan setelah pakan diperbaiki.
Memberikan pakan berprotein tinggi di awal, lalu menurunkannya secara bertahap mengikuti umur, justru terbukti lebih ekonomis karena memangkas durasi pemeliharaan.
3. Tidak Sortir Ukuran Ikan
Persoalan ketiga jarang dibahas, padahal dampaknya besar: membiarkan ukuran ikan tidak seragam tanpa pernah melakukan sortir.
Dalam satu kolam, ikan yang terlanjur besar akan mendominasi area pakan dan menyambar lebih dulu, sementara yang kecil semakin tertinggal karena kalah bersaing.
Jurang ukuran melebar seiring waktu dan menyeret rata-rata bobot panen ke bawah.
Melakukan grading atau penyortiran berkala, lalu memelihara ikan dalam kelompok ukuran yang setara, memberi kesempatan setiap individu mendapat porsi yang adil dan tumbuh sesuai potensinya.
4. Kualitas Air
Kualitas air yang menurun menjadi penyebab keempat yang sering tak terbaca. Amonia yang menumpuk dari sisa pakan dan kotoran, oksigen yang anjlok di dini hari, atau pH yang berfluktuasi tajam akan menekan nafsu makan ikan secara diam-diam.
Ikan yang stres mengalihkan energinya untuk bertahan hidup, bukan untuk tumbuh, sehingga pakan yang sama menghasilkan pertambahan bobot yang jauh lebih kecil.
Pergantian air berkala, kontrol kepadatan tebar, dan aerasi yang memadai sering kali memberi lonjakan pertumbuhan yang tidak bisa dicapai hanya dengan menambah pakan.
Kesalahan terakhir terletak jauh sebelum pakan masuk ke kolam, yaitu pada cara penyimpanan.
Karung yang ditumpuk di lantai lembap, dibiarkan terbuka berhari-hari, atau terpapar panas matahari akan kehilangan kandungan vitamin dan mengundang jamur.
Pakan semacam ini terlihat normal tetapi nilai gizinya sudah jauh berkurang, sehingga ikan makan dalam jumlah sama namun tumbuh lebih lambat.
Menyimpan pakan di atas palet, di ruang kering dan teduh, serta menghabiskannya dalam rentang waktu yang wajar adalah perlindungan murah terhadap mutu yang sudah Anda bayar.
5. Populasi Terlalu Padat
Satu faktor lingkungan yang memperkuat kelima kesalahan di atas adalah kepadatan tebar yang berlebihan.
Kolam yang terlalu padat memaksa ikan bersaing memperebutkan pakan, oksigen, dan ruang gerak, sehingga sebagian individu selalu kalah dan tumbuh tertinggal.
Kepadatan tinggi juga mempercepat penumpukan sisa pakan dan kotoran, yang menekan kualitas air dan menurunkan nafsu makan seluruh populasi.
Menyesuaikan jumlah tebar dengan daya dukung kolam dan kemampuan pengelolaan sering kali memberi hasil yang lebih baik daripada memaksakan populasi besar dengan harapan panen lebih banyak.
Dalam banyak kasus, kolam yang lebih lega justru menghasilkan bobot rata-rata dan keseragaman yang lebih tinggi, sehingga nilai jual totalnya pun lebih menguntungkan.
Yang juga perlu disadari, kelima kesalahan ini jarang berdiri sendiri; sering kali mereka saling memperkuat.
Pemberian pakan yang jarang membuat ikan rakus dan air cepat kotor, air yang kotor menekan nafsu makan, dan nafsu makan yang turun memperlebar jurang ukuran antarindividu.
Karena itu, memperbaikinya pun paling efektif bila dilakukan serentak sebagai satu kebiasaan, bukan satu per satu secara terpisah.
Memperbaiki kelima titik ini tidak menuntut biaya besar; sebagian besar hanya menuntut perubahan kebiasaan.
Namun fondasinya tetap pada pakan yang mutunya konsisten dari batch ke batch, karena strategi pemberian sebaik apa pun akan percuma bila kandungan nutrisinya berubah-ubah.
Rangkaian pakan ikan nila dari STP Aquaculture dirancang menyesuaikan kebutuhan tiap fase, termasuk RNM 1 yang menjaga konsistensi pertumbuhan dari fase grower hingga finisher agar hasil panen lebih seragam.
Bila Anda mendapati ikan tumbuh tak merata meski pakan sudah cukup, mulailah dengan mengevaluasi jenis pakan terhadap fase ikan Anda di halaman tersebut, sering kali, di situlah jawaban atas pertumbuhan yang selama ini terasa lambat.
(***)







