Jakarta – Sarden kalengan kerap dianggap sebagai makanan yang kurang sehat karena dikategorikan sebagai bagian dari ultra-processed food (UPF). Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena tidak semua produk makanan dalam kemasan kaleng otomatis masuk dalam kelompok makanan ultra-proses.
Tidak Semua Makanan Kaleng Termasuk UPF
Dalam berbagai literatur gizi, UPF didefinisikan sebagai produk hasil olahan industri yang dibuat dari bahan-bahan turunan makanan, seperti pati, gula, atau lemak yang telah diekstraksi. Produk ini umumnya minim bahan pangan utuh dan sering ditambahkan berbagai bahan tambahan seperti perisa, pewarna, pemanis, hingga pengemulsi.
Meski demikian, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, menjelaskan bahwa makanan kalengan tidak selalu identik dengan makanan tidak sehat.
Menurutnya, faktor utama yang menentukan kualitas kesehatan suatu produk bukanlah bentuk kemasannya, melainkan komposisi di dalamnya.
“Yang perlu diperhatikan itu kandungan garam, gula, dan lemaknya, termasuk apakah ada bahan tambahan tertentu,” ujarnya dalam sebuah pernyataan, dikutip dari detikhealth.
Ia juga menambahkan bahwa konsumen perlu lebih cermat membaca informasi nilai gizi pada label produk sebelum membeli makanan kemasan.
“Perhatikan kadar natrium dan lemaknya. Ada produk sarden yang menggunakan brine (air garam), ada juga yang memakai minyak,” jelasnya.
Klasifikasi Makanan dalam Sistem NOVA
Dalam ilmu gizi, tingkat pengolahan makanan sering mengacu pada sistem NOVA yang diperkenalkan oleh peneliti Brasil, Carlos Monteiro. Sistem ini mengelompokkan makanan ke dalam empat kategori berdasarkan tingkat proses pengolahannya.
Kelompok pertama adalah NOVA 1, yaitu makanan segar atau minim proses seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan.
Selanjutnya NOVA 2 mencakup bahan dasar masakan seperti gula, garam, minyak, dan mentega yang digunakan dalam pengolahan makanan.
Kategori NOVA 3 adalah makanan olahan sederhana yang biasanya ditambah garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan atau meningkatkan rasa. Contohnya ikan kalengan sederhana, keju, acar, dan roti tradisional.
Sementara itu, NOVA 4 atau ultra-processed food merupakan produk industri dengan formulasi kompleks yang mengandung banyak aditif seperti perisa, pewarna, pemanis, hingga penguat rasa. Contohnya minuman bersoda, camilan kemasan, mi instan tertentu, nugget, dan makanan siap saji.
Sarden Kalengan Tidak Selalu UPF
Berdasarkan klasifikasi tersebut, sarden dalam kemasan tidak otomatis tergolong UPF. Jika hanya berisi ikan, air, minyak, garam, atau saus tomat sederhana, maka produk tersebut lebih dekat dengan kategori makanan olahan sederhana atau NOVA 3.
Selain itu, sarden juga mengandung berbagai nutrisi penting seperti protein, omega-3, vitamin D, kalsium, dan lemak sehat, sehingga masih dapat menjadi pilihan praktis selama tidak dikonsumsi berlebihan dan kandungan natriumnya terkontrol.
Namun, produk sarden bisa masuk kategori UPF apabila mengandung banyak bahan tambahan seperti perisa buatan, penguat rasa, pengental, pemanis tambahan, atau bahan aditif lain dalam jumlah tinggi.
Bukan Kalengnya yang Jadi Masalah
Para ahli menekankan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kemasan kalengnya, melainkan pada komposisi produk di dalamnya, terutama kadar garam, gula, serta berbagai bahan tambahan.
Dengan demikian, sarden kalengan sederhana memiliki karakter yang berbeda dibandingkan makanan ultra-proses seperti minuman bersoda, sosis olahan industri, atau makanan beku siap saji yang umumnya memiliki formulasi lebih kompleks.(BY)







