Padang Pariaman – Gelap malam di Nagari Anduriang, Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat seperti menyimpan luka yang belum sembuh. Arus Sungai Batang Anai mengalir deras, seolah mengingatkan betapa tipis batas antara selamat dan petaka.
Di tepi sungai itulah, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis berdiri, Senin (4/5/2026) malam itu wajahnya tegang, menyaksikan langsung lokasi yang nyaris merenggut satu nyawa.
Peristiwa itu bukan sekadar kabar lewat laporan. Seorang lansia, Afrizal Yatim (70), hampir hilang ditelan arus saat mencoba menyeberang hanya dengan bantuan seutas tali. Tubuhnya terseret, tak berdaya, di tengah derasnya air yang tak mengenal belas kasihan.
Namun takdir berkata lain. Di detik genting itu, seorang pemuda bernama Kadri Maiwansyah (25) melompat tanpa pikir panjang. Ia menerjang arus, mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkan orang lain.
“Ambo lansuang tajun…,” ucapnya singkat, namun cukup menggambarkan keberanian yang tak bisa diukur dengan kata-kata.
Kunjungan Bupati John Kenedy Azis didampingi Wabup Rahmat Hidayat, Pj Sekda Hendra Aswara, kepala OPD terkait, camat dan Wali nagari setempat pada malam itu terasa berbeda.
Bukan seremonial, melainkan respons atas ancaman nyata. Baru saja kembali dari luar daerah, Bupati John Kenedy Azis langsung menuju lokasi. Tak ada jeda.
Menurutnya, kejadian ini adalah peringatan keras bahwa keselamatan warga tak bisa lagi ditunda. Nada suaranya meninggi saat memberi instruksi.
Ia menegaskan pembangunan jembatan darurat harus dimulai keesokan hari. Tidak ada alasan, tidak ada penundaan. “Diminta masyarakat ikut mengawal, memastikan proyek itu tidak mandek di tengah jalan,” harapnya.
Di sisi lain, rasa haru menyelimuti momen ketika Kadri Maiwansyah dipanggil ke depan. Pemerintah daerah menyerahkan sebuah telepon seluler sebagai bentuk penghargaan.
Hadiah itu mungkin sederhana, namun maknanya besar. Ini sebuah pengakuan atas keberanian yang menyelamatkan nyawa.
Bupati John Kenedy Azis juga mengingatkan jajaran OPD, camat, hingga perangkat nagari agar tak lengah.
Ia meminta pengawasan dilakukan setiap hari, laporan disampaikan rutin, dan progres dipastikan bergerak cepat. Karena baginya, setiap keterlambatan bisa berujung pada tragedi baru.
Jembatan yang dulu menjadi penghubung hidup warga telah lama runtuh dihantam banjir pada November 2025. Sejak saat itu, masyarakat dipaksa bernegosiasi dengan risiko setiap kali menyeberang.
Meski pembangunan jembatan permanen sudah masuk dalam rencana besar pemulihan pascabencana Sumatera Barat, kenyataan di lapangan tak bisa menunggu. Jembatan darurat kini bukan sekadar proyek. Melainkan garis penentu antara hidup dan mati.(bay).







