Bimbel Gratis Diserbu, Harapan ASN dari Anak Miskin Pariaman Dipertaruhkan

Kota Pariaman – Di halaman kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman, Sumatera Barat suasana tak sekadar seremoni. Ada harapan yang dipikul 55 anak muda yang nekat menantang nasib lewat jalur sekolah kedinasan Jalur sunyi, keras, dan tak selalu ramah bagi mereka yang datang dari keluarga sederhana.

Program Bimbingan Belajar Bimbel) gratis ini kembali digelar untuk tahun kedua, di bawah kepemimpinan Yota Balad dan Wakil Walikota Mulyadi. Bagi sebagian peserta, ini bukan sekadar pelatihan. Ini satu-satunya pintu keluar dari lingkaran keterbatasan.

Mulyadi tak berbasa-basi. Ia mengingatkan, program gratis bukan berarti tanpa tuntutan. Disiplin, tekad, dan arah hidup yang jelas menjadi syarat mutlak. “Jangan ikut hanya karena gratis. Kalau tidak punya tujuan, kalian akan tersisih bahkan sebelum bertarung,” pesannya tegas, seolah menampar realitas yang sering diabaikan.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Hertati Taher, membuka fakta menarik. Dari 55 peserta, 50 berasal dari keluarga kurang mampu, sementara 5 lainnya jalur mandiri.

Dua skema ini disebut sebagai upaya merangkul semua lapisan, tanpa menghilangkan fokus utama. Mereka yang paling membutuhkan.

Berbeda dari tahun sebelumnya, pola latihan kini dirombak. Sesi akademik digelar sore hari di SMPN 4 Pariaman, sementara latihan fisik tetap menguras tenaga sejak pagi, melibatkan instruktur dari Kodim 0308 Pariaman dan Polres Pariaman. Intensitas ini bukan tanpa alasan, persaingan masuk sekolah kedinasan semakin brutal.

Hasil tahun lalu menjadi tolok ukur sekaligus cambuk. Dari 50 peserta, hanya 5 yang berhasil lolos. Empat ke TNI AD, satu ke satuan berkuda. Angka kecil itu justru menjadi pengingat. Peluang ada, tapi tidak untuk semua.

Program ini akan berlangsung 25 kali pertemuan hingga akhir Mei, dengan target sederhana tapi tajam. Lebih banyak yang lulus, lebih banyak keluarga yang terangkat. Gelombang kedua pun sudah disiapkan di akhir tahun, memberi kesempatan bagi mereka yang belum sempat bertarung di awal.

Di balik semua itu, satu hal tak bisa disangkal: bimbel gratis ini bukan sekadar program pemerintah. Ini adalah pertaruhan masa depan. Antara mereka yang siap mengubah hidup, dan mereka yang akan kembali kalah oleh keadaan.(mak).