Rupiah Melemah, Rosan Pastikan Minat Investor ke Indonesia Tetap Kuat

Rosan Roeslani menilai depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tidak menjadi hambatan.
Rosan Roeslani menilai depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tidak menjadi hambatan.

JakartaMenteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak mengganggu minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia. Pada perdagangan terakhir, rupiah ditutup melemah 31 poin atau sekitar 0,18 persen ke level Rp16.896 per dolar AS.

Menurut Rosan, dinamika kurs merupakan faktor yang sejak awal telah diperhitungkan oleh para investor sebelum masuk ke suatu negara. Fluktuasi yang terjadi belakangan ini dinilai masih berada dalam batas wajar dan dapat diterima oleh pelaku usaha global.

“Kalau kita perhatikan, pergerakan dolar itu tidak naik terus-menerus, tapi memang berfluktuasi. Saya melihat kondisi ini masih dalam rentang yang sangat bisa diterima oleh investor asing,” ujar Rosan usai konferensi pers realisasi investasi 2025 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Ia menjelaskan, baik investor asing maupun domestik umumnya sudah mengalkulasi berbagai risiko sejak tahap perencanaan, termasuk kemungkinan melemahnya nilai tukar. Dampak seperti kenaikan biaya konstruksi atau harga bahan baku sudah masuk dalam skema perhitungan awal.

“Pergerakan mata uang kita sudah mereka perhitungkan saat memutuskan berinvestasi. Jadi perubahan yang terjadi sekarang masih berada dalam rentang yang sangat dapat diterima,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rosan juga membantah anggapan bahwa investasi asing mengalami perlambatan sepanjang 2025. Data menunjukkan realisasi penanaman modal asing mencapai Rp900,9 triliun, dengan pertumbuhan tipis 0,1 persen secara tahunan.

Ia menilai kecilnya pertumbuhan tersebut bukan disebabkan melemahnya minat investor asing, melainkan karena investasi domestik tumbuh jauh lebih cepat. Sepanjang 2025, porsi investasi asing tercatat sebesar 46,6 persen, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang 53,4 persen.

“Bukan investasi asingnya yang melambat, tetapi justru investasi dalam negerinya yang melaju lebih kencang,” jelas Rosan.

Rosan menambahkan, keberadaan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menjadi salah satu motor penggerak lonjakan PMDN sepanjang 2025. Bahkan, pada 2026, porsi investasi asing diperkirakan akan semakin tergerus seiring meningkatnya aktivitas investasi yang dilakukan Danantara.

“Saya sangat yakin investasi dalam negeri akan terus meningkat, terutama karena peran Danantara yang cukup signifikan. Secara persentase, pertumbuhan dari dalam negeri akan lebih besar dibandingkan dari luar,” tutupnya.(BY)