Pulang Pisau, fajarharapan.id – Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN) konsisten memajukan dan memberdayakan perempuan Dayak agar mandiri, produktif, dan berdaya di era modern. Komitmen ini diwujudkan dengan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III dan Lokakarya Nasional (Loknas) 2025 dengan Tema “Penguatan Kelembagaan Masyarakat di Dalam dan di Sekitar Hutan” acara berlangsung di Auditorium Perpustakaan Nasional Perpusnas Lt 4, Jl Medan Merdeka Selatan No.11, Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Jum’at (3/10/2025).
Ketua Umum LPDN Ir Nyelong Inga Simon menjelaskan tema dari semua rangkaian kegiatan adalah Penguatan Kelembagaan Masyarakat di Dalam dan di Sekitar Hutan.
Dia juga menjelaskan tujuan dari seluruh agenda LPDN ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penyiapan pengembangan Sekolah Lapang untuk pemberdayaan perempuan Dayak, yang diintegrasikan dengan program Perhutanan Sosial Pemerintah.
“Masyarakat adat Dayak adalah masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan, di daerah aliran sungai, yang menggantungkan hidupnya dari alam. Masyarakat adat Dayak tidak bisa dipisahkan dari alam, dari hutan, dari sungai dengan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya tetapi sekaligus menjaga dan merawatnya dengan berbagai kearifan tradisional yang dihayatinya sejak turun-temurun”, kata Nyelong Inga Simon.
Kehidupan masyarakat adat Dayak yang bergantung pada alam ini, belakang tergerus oleh berbagai kebijakan pemerintah pusat demi menjaga alam, lingkungan hidup sekitar, seperti larangan pola pertanian ladang berpindah, mendulang emas secara tradisional, dan pemanfaatan kayu hutan. Tetapi, dampaknya di lapangan menggerus sumber penghidupan masyarakat adat Dayak. Tidak heran, beberapa tahun belakangan ini, khususnya sejak tahun 2022, berbagai media nasional dan lokal mengangkat berita miris tentang Robohnya Lumbung Pangan Dayak Kalimantan.
Untuk itu, LPDN sedang merancang Program Sekolah Lapang demi pemberdayaan perempuan dan anak-anak muda Dayak yang diintegrasikan dengan Program Pemerintah berupa Perhutanan Sosial. Melalui Sekolah Lapang, para peserta, khususnya perempuan Dayak, dilatih dan didampingi untuk pada akhirnya dapat mengolah dan memanfaatkan lahan yang dimilikinya ataupun lahan yang diperoleh melalui Program Perhutanan Sosial untuk aktivitas pertanian, perkebunan dan peternakan sekaligus menjaga, merehabilitasi lahan dengan tanaman-tanaman tegakan umur panjang sebagai tanaman hutan atau perkebunan.
“Sekolah Lapang akan mengembangkan aktivitas pemberdayaan berupa pelatihan dan pendamping oleh fasilitator produksi berbasis teknologi tepat guna pemasaran sinergi antara akademisi, pengusaha, pemerintah, komunitas dan akses modal,” jelasnya.
Andriani menjelaskan Lembaga Perempuan Dayak adalah organisasi yang didirikan untuk memperjuangkan hak-hak dan kepentingan perempuan Dayak yang ada di Indonesia agar perempuan Dayak bisa berkiprah di kancah tingkat Nasional.
“Saya sebagai perempuan Dayak merasa terbantu dengan adanya organisasi ini apa lagi ketua LPDN ibu Nyelong Inga Simon Sangat Tegas dan Visi Misi beliau sangat jelas dan membantu mewakili perempuan dayak yang ada di Indonesia”, tutupnya.(FJR)







