Bukan Sekadar Lamang, Tradisi Menjaga Napas Budaya Padang Pariaman

Padang Pariaman – Asap bara mengepul, santan menguar, dan ruas-ruas bambu berisi ketan dipanggang perlahan. Di tengah semarak Padang Pariaman Mauluik Gadang 2026, tradisi malamang kembali mengambil tempat penting.

Pada Senin (24/8/2026), halaman Masjid Raya IKK Ali Mukhni, Parit Malintang, tidak sekadar menjadi lokasi memasak lamang, tetapi panggung tempat adat dan kebersamaan dipertontonkan secara nyata.

Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis bersama Wakil Bupati Rahmat Hidayat ikut turun langsung dalam prosesi tersebut. Mereka mengisi adonan ketan bercampur santan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang, sebelum lamang disusun di atas bara dan dipanggang hingga matang.

Sekretaris Daerah Hendra Aswara, Ketua TP-PKK Ny. Nita Christanti Azis, Ketua DWP Renny Hendra Aswara, jajaran kepala perangkat daerah, Forkopimda, Bundo Kanduang, hingga tamu undangan turut menyaksikan dan terlibat dalam tradisi tersebut.

Tetapi malamang bukan soal seberapa lezat lamang yang dihasilkan. Di balik bambu yang dibolak-balik di atas bara, ada nilai yang jauh lebih dalam. Gotong royong, kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur.

Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini menjadi bukti bahwa modernisasi tidak selalu harus menghapus kebiasaan lama yang membentuk identitas masyarakat.

Sehari sebelumnya, persiapan telah dilakukan bersama Bundo Kanduang dan panitia. Bambu dipilih, ketan disiapkan, santan diracik, lalu seluruh bahan dirangkai hingga siap dipanggang.

Rangkaian sederhana itu justru memperlihatkan kekuatan tradisi. Tidak ada satu orang yang bekerja sendirian. Semua mengambil peran, dari menyiapkan bahan hingga menjaga bara agar lamang matang sempurna.

John Kenedy Azis memberikan apresiasi kepada Bundo Kanduang dan seluruh masyarakat yang tetap merawat tradisi tersebut.

Ia berharap seluruh rangkaian Padang Pariaman Mauluik Gadang 2026 berlangsung lancar dan mendapat ridho Allah SWT. Bupati John Kenedy Azis juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan selama kegiatan berlangsung agar kemeriahan perayaan tetap nyaman dinikmati bersama.

Di tengah derasnya perubahan zaman, tradisi seperti malamang menghadapi tantangan yang tidak kecil. Generasi muda bisa saja mengenal lamang sebagai makanan. Tetapi perlahan melupakan proses, makna, dan nilai sosial yang melekat di balik pembuatannya.

Ketika pejabat daerah ikut memegang bambu dan belajar langsung dari Bundo Kanduang, pesan yang dikirim jauh lebih penting daripada sekadar seremoni.

Padang Pariaman Mauluik Gadang akhirnya bukan hanya tentang merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan agama, adat, budaya, dan silaturahmi.

Dari bara api dan ruas bambu, masyarakat kembali diingatkan bahwa identitas tidak cukup diwariskan melalui cerita. Ia harus dipraktikkan, dikenalkan kepada generasi muda, dan dijaga bersama agar tetap hidup ketika zaman terus berubah.(bay).