Padang Pariaman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman, Sumatera Barat tak mau membiarkan kualitas pendidikan berjalan di tempat. Sebanyak 1.036 guru SMP kini digembleng melalui program intensif “Guru Belajar, Murid Pintar”, sebuah langkah yang secara terang-terangan menempatkan kualitas guru sebagai taruhan utama masa depan pendidikan daerah.
Program yang digelar 14–31 Agustus 2026 itu bukan sekadar pelatihan seremonial. Seluruh MGMP se-Padang Pariaman digerakkan, dengan 12 kelompok mata pelajaran dan MGBK sebagai mesin kolaborasi.
Pesannya jelas. Guru dituntut terus belajar, sementara sekolah tak boleh lagi bekerja sendiri-sendiri dalam menghadapi perubahan kurikulum dan tuntutan pendidikan.
Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padang Pariaman, Dr. Afrinaldi Yunas, S.Pd., M.A., menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tak cukup dengan mengejar gedung, fasilitas, dan sarana fisik.
Ada infrastruktur yang jauh lebih menentukan namun kerap luput dari sorotan. Manusia yang berdiri di depan kelas setiap hari.
“Guru belajar terus, murid pintar terus. Ini adalah ekosistem yang ingin kita bangun.” Dari Pendidikan Agama Islam, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, PJOK, Informatika, Seni Budaya, Prakarya hingga Bimbingan Konseling, seluruh bidang didorong masuk dalam ekosistem belajar bersama.
Afrinaldi menyebut pengaktifan 12 MGMP sekaligus sebagai upaya memecah pola kerja yang terkotak-kotak dan memaksa lahirnya praktik baik lintas sekolah.
Namun tantangannya bukan sekadar membuat guru lebih mahir mengajar. Program ini juga membidik sesuatu yang lebih dalam, karakter.
Nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila didorong masuk ke dalam pembelajaran, sehingga guru tidak hanya dituntut menjadi pengajar materi, tetapi juga teladan bagi siswa.
Di titik inilah slogan “Guru Hebat, SMP Kuat, Padang Pariaman Bermartabat” diuji, bukan sekadar dipajang sebagai jargon.
Dinas Dikbud Padang Pariaman menargetkan lima perubahan. Yakni kompetensi dan profesionalisme guru yang terukur, peningkatan kualitas pembelajaran di kelas, MGMP yang hidup sebagai komunitas belajar, penguatan karakter guru, serta lahirnya pendidikan SMP yang mampu bersaing secara nasional.
Target itu terdengar besar dan justru karena itu, hasilnya kelak akan menjadi ukuran. Apakah program ini benar-benar mengubah kelas atau hanya menambah panjang daftar kegiatan pemerintah.
Padang Pariaman kini mempertaruhkan investasi pada 1.036 guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin keras. SMP adalah gerbang penting sebelum siswa melangkah ke jenjang menengah. Jika fondasinya rapuh, masalah akan ikut terbawa ke tingkat berikutnya.
Program “Guru Belajar, Murid Pintar” akhirnya bukan hanya soal guru mengikuti pelatihan selama dua pekan, melainkan pertaruhan. Apakah stimulus itu benar-benar mampu mengubah cara mengajar, menghidupkan kelas, dan membuat murid merasakan hasilnya.(bay)







