Padang Pariaman – Ketika iuran Jaringan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi beban bagi keluarga kurang mampu, masyarakat Padang Pariaman, Sumatera Barat menunjukkan bahwa solidaritas bisa menjadi jalan keluar. Tradisi badoncek yang selama ini dikenal sebagai budaya gotong royong kembali dihidupkan. Kali ini, untuk membayar iuran BPJS Kesehatan warga yang membutuhkan. Gerakan itu bahkan telah membantu sekitar 2.200 jiwa.
Apresiasi datang langsung dari Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Setiaji saat berkunjung ke Puskesmas Batu Basa, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Padamg Pariaman, Sabtu (22/8/2026).
Di hadapan Bupati John Kenedy Azis, jajaran pemerintah daerah, tokoh nagari, donatur, dan para perantau, Setiaji menyebut model pembiayaan berbasis filantropi tersebut sebagai inovasi sosial yang layak ditiru daerah lain.
Gerakan itu bukan aksi sesaat.
Menurut Bupati John Kenedy Azis, Makcik H. Sagi bersama para perantau Kecamatan IV Koto Aur Malintang telah sekitar dua tahun konsisten bergotong royong membantu pembayaran iuran JKN masyarakat kurang mampu.
Bahkan pada kegiatan tersebut, 13 donatur dari kalangan dokter dan pengelola klinik ikut mengambil bagian dalam gerakan sosial tersebut.
Di tengah perjuangan Padang Pariaman mengejar Universal Health Coverage (UHC), pemerintah daerah menyadari negara tidak bisa bekerja sendirian.
Pemkab kini membuka berbagai jalur dukungan, mulai dari donasi perantau, program CSR perusahaan, hingga mengupayakan pokok-pokok pikiran DPRD untuk diarahkan membantu pembiayaan kepesertaan JKN masyarakat.
“Kami terus berusaha agar Padang Pariaman segera mencapai UHC,” kata John Kenedy Azis.
Yang menarik, kekuatan gerakan ini justru lahir dari akar budaya. Badoncek yang selama ini identik dengan urunan dan kepedulian sosial kini menemukan bentuk baru. Memastikan warga miskin tidak kehilangan perlindungan kesehatan hanya karena tak sanggup membayar iuran.
Bagi masyarakat yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan semacam itu bukan sekadar angka dalam laporan. Tetapi bisa menjadi pembeda ketika penyakit datang dan biaya pengobatan menghantui.
Setiaji menilai kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah nagari, dan perantau tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi canggih.
Kadang, solusi justru tumbuh dari tradisi yang diwariskan turun-temurun. BPJS Kesehatan pun optimistis berbagai langkah yang disiapkan Pemkab Padang Pariaman dapat mempercepat pencapaian UHC, bahkan mengejar daerah lain.
Kini tantangannya adalah menjaga agar semangat badoncek tidak berhenti pada seremoni dan bantuan sesaat. Edukasi kepada masyarakat, penguatan kepesertaan mandiri, dukungan dunia usaha, serta konsistensi para perantau harus terus bergerak bersama.
Sebab ketika gotong royong mampu membayar iuran 2.200 warga, Padang Pariaman sedang membuktikan satu hal. Kemiskinan mungkin membatasi kemampuan seseorang membayar, tetapi tidak seharusnya membatasi haknya untuk mendapatkan perlindungan kesehatan.(bay).







