Jambi  

190 Hektar Hutan Gambut di Jambi Terbakar, 5 Petani Diamankan

Laporan ;
Kasparman Piliang

Jambi, fajarharapan.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut di Provinsi Jambi makin meluas. Hingga hari ini sudah terpantau 190 hektar lebih hutan gambut hangus terbakar.

Berdasarkan pemantauan citra satelit KKI WARSI, kebakaran terpantau mulai muncul sejak 5 Agustus 2026 di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Desa Sungai Gelam, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.

“Berdasarkan interpretasi citra satelit NOAA pada 11 Agustus 2026, area terbakar diperkirakan telah mencapai 190 hektar,” ujar Koordinator Program KKI WARSI Ade Chandra.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena kebakaran terjadi di ekosistem gambut dengan kedalaman cukup tinggi.

“Ini bukan hanya kebakaran vegetasi di permukaan, tetapi ekosistem gambut yang memiliki karakteristik khusus. Apalagi kawasan yang terbakar merupakan gambut yang cukup dalam,” ujar Ade.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kedalaman gambut di lokasi kebakaran berkisar 200 hingga 300 sentimeter. Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran lebih sulit karena api dapat menjalar hingga lapisan bawah gambut.

Kawasan tersebut bukan kali pertama mengalami kebakaran. Berdasarkan pemantauan WARSI, lokasi yang sama juga pernah terbakar pada 2015 dan 2019 lalu.

WARSI mendorong pemerintah melakukan upaya pemadaman dan penindakan terhadap pelaku pembakaran. Jika ditemukan aktivitas yang melanggar aturan, penegakan hukum perlu dilakukan.

Sementara itu, sebanyak lima (5), orang petani ditetapkan sebagai tersangka dari empat perkara karhutla yang ditangani di tiga wilayah hukum Polda Jambi.

Dirreskrimsus Polda Jambi Kombes Pol Taufik Nurmandia mengatakan, empat perkara tersebut masing-masing satu laporan ditangani Polres Tanjung Jabung Barat, dua laporan di Polres Tebo, serta satu laporan di Polres Sarolangun.

“Kita telah menetapkan lima orang tersangka dari empat kasus karhutla di tiga wilayah,” katanya.

Taufik mengatakan, para tersangka bukan berasal dari perusahaan, melainkan petani yang sengaja membuka lahan dengan cara membakar.

Belum berhasilnya api dijinakkan , membuat Kota Jambi, pada Rabu pagi masih diselimuti asap tipis. Namun kondisi ini belum mengganggu lalu lintas penerbangan di Bandara Sultan Taha, Jambi.

Pantauan Badan Meteorologi dan Gefisika (BMKG), Bandara Sultan Taha, jarak pandang pagi hari masih berkisar sejauh lima hingga tujuh kilometer.