Jakarta – Aksi seorang wisatawan asal China memicu perhatian otoritas di Pulau Ly Son, Vietnam. Turis berusia 30 tahun itu kedapatan mengendarai sepeda motor di atas To Vo, formasi batu vulkanik yang menjadi salah satu objek geologi penting di kawasan tersebut.
To Vo berada di sisi barat Big Island, Pulau Ly Son. Struktur batuan berbentuk seperti gerbang tersebut telah ditetapkan sebagai situs warisan nasional Vietnam pada 2025.
Peristiwa itu terungkap setelah video yang merekam aksi sang wisatawan beredar luas di media sosial. Menanggapi kejadian tersebut, pejabat setempat memanggil turis itu untuk memberikan penjelasan pada Rabu (5/8).
Dalam pemeriksaan, wisatawan tersebut mengaku tidak mengetahui larangan yang berlaku di lokasi. Ia beralasan tidak memahami tulisan pada papan peringatan karena tidak dapat berbahasa Vietnam maupun Inggris.
Ia mengatakan hanya ingin mendekati formasi batu tersebut karena tertarik dengan bentuknya.
“Saya melihat formasi batuan itu sangat indah dan hanya ingin maju lebih dekat untuk melihatnya. Saya benar-benar minta maaf,” ujarnya kepada petugas, seperti dikutip VN Express.
Otoritas Ly Son tidak menjatuhkan denda terhadap turis tersebut. Sebagai gantinya, ia diminta membuat dan menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi tindakan serupa.
Terbentuk dari Aktivitas Vulkanik
To Vo dikenal sebagai salah satu bentang alam unik di Pulau Ly Son. Gerbang batu tersebut memiliki panjang sekitar 9 meter dan tinggi 2,5 meter. Bagian bawahnya membentuk celah yang memungkinkan gelombang laut bergerak menuju area pasir di bawahnya.
Menurut catatan geologi setempat, formasi tersebut merupakan hasil aktivitas vulkanik yang berlangsung puluhan juta tahun lalu. Selama ribuan tahun, bentuknya kemudian berubah akibat proses erosi serta perubahan permukaan laut.
Perubahan alam yang berlangsung selama sekitar 6.000 tahun turut membentuk karakter To Vo seperti yang terlihat sekarang. Nilai geologis dan keunikannya kemudian membuat kawasan tersebut memperoleh status sebagai situs warisan nasional pada 2025.
Namun, status perlindungan tersebut belum sepenuhnya mencegah pengunjung melakukan aktivitas yang berpotensi merusak struktur batuan.
Pelanggaran Bukan Kali Pertama
Otoritas sebenarnya telah mengambil langkah pencegahan. Sejak April, wisatawan dilarang menaiki bagian atas gerbang batu. Papan peringatan juga telah dipasang untuk mengingatkan pengunjung mengenai risiko keselamatan sekaligus kerentanan formasi tersebut.
Meski demikian, larangan itu masih dilanggar. Pada Juli, sejumlah wisatawan bahkan terlihat naik ke atas To Vo untuk mengambil foto. Mereka tetap melakukan aktivitas tersebut meski telah mendapat teguran dari warga dan melihat tanda larangan yang terpasang di lokasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengawasan menjadi salah satu persoalan yang perlu segera dibenahi.
Wakil Kepala Dinas Kebudayaan dan Informasi Ly Son, Vo Thi Huong, mengatakan sejumlah lokasi wisata di pulau tersebut belum dilengkapi petugas keamanan yang berjaga secara permanen.
Akibatnya, pengawasan terhadap wisatawan masih banyak mengandalkan kesadaran masing-masing pengunjung. Persoalan lainnya, aturan yang berlaku saat ini juga belum menyediakan ketentuan hukum khusus berupa denda bagi wisatawan yang melanggar larangan.
Siapkan Pengelolaan yang Lebih Ketat
Pemerintah Kawasan Khusus Ly Son kini berupaya memperbaiki sistem pengelolaan kawasan wisata. Penataan tersebut mencakup pembangunan infrastruktur yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun ini.
Dalam rencana tersebut, pemerintah akan menyediakan jalur yang secara khusus digunakan wisatawan. Pengelola permanen juga akan ditempatkan di sejumlah lokasi untuk melakukan pengawasan.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi aktivitas pengunjung yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun merusak situs geologi.
Bagi Ly Son, perlindungan terhadap To Vo menjadi semakin penting karena formasi tersebut bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga bagian dari warisan geologi yang terbentuk melalui proses alam selama jutaan tahun.(BY)







