Pulpis  

Nusaphoria 2026 Jadi Panggung Pelestarian Budaya Dayak, Generasi Muda Antusias Ikuti Beragam Lomba Tradisional

Nusaphoria 2026 Jadi Panggung Pelestarian Budaya Dayak
Nusaphoria 2026 Jadi Panggung Pelestarian Budaya Dayak

Pulang Pisau, fajarharapan.id – Beragam permainan dan kesenian tradisional mewarnai pelaksanaan Nusaphoria 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Handep Hapakat Fair di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya daerah kepada generasi muda.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Pulang Pisau, Andriani, mengatakan berbagai perlombaan budaya diselenggarakan untuk membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap tradisi lokal. Selain lomba Lawang Sakepeng, panitia juga menggelar kompetisi Balogo, Manyipet, Besei Kambe, Sepak Sawut, hingga Menjawet Uwei.

Menurut Andriani, Lawang Sakepeng merupakan salah satu kesenian khas masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah yang selama ini kerap ditampilkan dalam penyambutan tamu kehormatan maupun prosesi pernikahan adat. Karena itu, keterlibatan generasi muda dinilai menjadi kunci agar kesenian tersebut tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia berharap sanggar-sanggar seni yang ada terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan kepada para anggotanya. Selain meningkatkan kemampuan, para pelaku seni juga didorong menghadirkan inovasi agar budaya tradisional tetap diminati tanpa kehilangan nilai-nilai aslinya.

“Lawang Sakepeng memiliki potensi besar menjadi ikon budaya Kabupaten Pulang Pisau jika terus dikembangkan dan didukung oleh generasi muda,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Tahun ini, lomba Lawang Sakepeng diikuti delapan regu, terdiri atas lima regu putri dan tiga regu putra. Tingginya jumlah peserta menunjukkan minat kalangan muda terhadap seni budaya daerah terus meningkat.

Pada kategori putri, Perguruan Palampang Penarus Tinjek berhasil meraih juara pertama. Dua anggotanya, Laudya Lala Laura dan Listi Lili Laura, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Dayak meski masih terus mendalami makna dan filosofi Lawang Sakepeng.

Menurut Laudya, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur. Ia mengajak anak-anak muda agar tidak ragu mempelajari dan menampilkan seni tradisional karena kecintaan terhadap budaya dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menyaksikan pertunjukan, berlatih di sanggar, hingga berani tampil dan mengukir prestasi.(Fjr)