Padang – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sumatera Barat memberikan tanggapan terkait keluhan salah satu orang tua peserta seleksi Paskibraka 2026 yang mempertanyakan adanya perubahan nilai setelah tahap pemantauan akhir (pantukhir).
Keluhan tersebut datang dari M. Yusuf, orang tua Nazwa Rahma Pratama, siswi SMA Negeri 5 Padang. Ia menyoroti perbedaan nilai anaknya yang berubah setelah pengumuman hasil seleksi kandidat tingkat nasional.
Menurut M. Yusuf, pada awalnya Nazwa memperoleh nilai 88 saat mengikuti tahap pantukhir. Namun, setelah hasil akhir diumumkan, nilainya berubah menjadi 74,71.
Menanggapi hal itu, Kepala Kesbangpol Sumbar, Mursalim, menyebut perbedaan nilai tersebut terjadi karena adanya kesalahpahaman terkait sistem penilaian yang masih berjalan di dalam aplikasi seleksi.
“Ini terjadi miskomunikasi. Nilai di aplikasi belum final, masih ada beberapa komponen penilaian yang belum masuk,” jelasnya kepada Langgam.id, Sabtu (16/5/2026) malam.
Ia menjelaskan, angka 88 yang sempat terlihat merupakan nilai sementara dari unsur penilaian Kesbangpol saja. Setelah seluruh unsur penilai memasukkan hasil masing-masing, nilai akhir peserta kemudian terkoreksi menjadi 74.
Mursalim juga menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara transparan dan diawasi langsung oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dengan penginputan nilai yang dilakukan terbuka di hadapan peserta.
Dalam proses seleksi Paskibraka ini, terdapat empat unsur penilai, yakni Kesbangpol, BPIP, Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI), serta psikolog dari Universitas Negeri Padang (UNP).
Masing-masing unsur memberikan penilaian yang kemudian digabungkan untuk menentukan hasil akhir peserta.
“Nilai awal 88 itu dari Kesbangpol, tapi ada penilai lain yang memberi skor di kisaran 70-an, sehingga setelah dikomulasi hasilnya berubah,” ujarnya.
Ia menegaskan tidak ada kecurangan dalam proses seleksi tersebut. Menurutnya, perbedaan persepsi terjadi karena kurangnya pemahaman terkait mekanisme penilaian yang digunakan.
“Tidak ada permainan. Semua dilakukan terbuka, ini hanya miskomunikasi setelah dijelaskan ke orang tua peserta,” tutupnya.(des*)







