Kota Pariaman – Riuh tepuk tangan pecah di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), pada Rabu (6/5/2026) siang itu. Musyawarah Provinsi Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Sumbar 2026 tak hanya menjadi forum biasa, menjelma menjadi titik balik, saat arah baru organisasi ditentukan tanpa perdebatan panjang.
Nama Yota Balad menguat sejak awal. Setelah melalui musyawarah bersama pengurus dari tujuh kabupaten/kota, keputusan bulat pun lahir.
Ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDBI Sumbar periode 2026–2030, melanjutkan perannya sebelumnya sebagai ketua transisi.
Kehadirannya bukan sekadar simbol. Ia datang dengan beban harapan. Mengangkat organisasi yang selama ini dinilai berjalan tertatih.
Di hadapan peserta, ia tak menutup mata bahwa tantangan ke depan tidak ringan, namun justru itu yang ingin ia ubah.
“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Ini amanah bersama,” ucap Yota Balad menegaskan bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan kolaborasi yang nyata di lapangan.
Yota Balad mengatakan bahwa drum band bukan sekadar cabang olahraga. Ia menyebutnya sebagai perpaduan antara seni, disiplin, dan kekuatan mental.
“Ruang pembinaan karakter generasi muda yang selama ini belum digarap maksimal,” ucap Yota Balad.
Pesan serupa juga datang dari perwakilan KONI Sumbar, Sri Siswani. Ia secara terbuka menyoroti kondisi PDBI yang selama ini dianggap “terseok-seok”.
Menurutnya, kepemimpinan baru harus menjadi momentum kebangkitan, bukan sekadar pergantian struktur.
“Mulai hari ini, tidak ada lagi alasan untuk stagnan. PDBI harus bangkit dan berkembang seperti cabang olahraga lainnya,” tegasnya, memberi tekanan sekaligus harapan pada kepengurusan baru.
Musprov ini sendiri diikuti oleh tujuh daerah..Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kabupaten Pesisir Selatan, Pasaman Barat, Lima Puluh Kota, dan Kabupaten Solok.
Mereka datang dengan satu kepentingan, melihat drum band Sumatera Barat kembali hidup dan berprestasi.
Kini, sorotan tertuju pada langkah berikutnya. Aklamasi telah selesai, euforia telah mereda. Yang tersisa adalah kerja nyata. Membangun sistem, membina atlet, dan membuktikan bahwa keputusan bulat hari itu bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari perubahan besar.(mak).







