Bupati Padang Pariaman Naik Motor Resmikan Jembatan Di Tengah Efisiensi Anggaran

Padang Pariaman – Deru mesin sepeda motor memecah sunyi pagi di Nagari Lareh Nan Panjang Selatan, VII Koto, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (24/4/2026). Di tengah sorot mata warga, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis datang tanpa protokoler mewah membonceng Ketua TP PKK, menembus jalan yang dulu rusak parah, seolah ingin merasakan langsung luka lama masyarakat yang bertahun-tahun terisolasi.

Bukan sekadar seremoni, peresmian Jembatan Rajang Kampuang Dama menjelma jadi simbol perlawanan terhadap stagnasi. Jembatan yang dulu nyaris “mati”, rapuh, membahayakan, bahkan sempat terputus akibat banjir. Kiini berdiri kembali, menghubungkan harapan dua nagari: Lareh Nan Panjang Selatan dan Balah Aie.

Selama 3 hingga 4 tahun, denyut ekonomi warga tersendat. Anak sekolah harus memutar jauh, petani kesulitan membawa hasil panen, dan akses layanan dasar terasa seperti kemewahan. Jembatan itu bukan sekadar infrastruktur, ia adalah nadi kehidupan yang sempat nyaris berhenti berdetak.

Kini, bentangan sepanjang 60 meter dengan lebar 2 meter itu kembali bisa dilalui. Tidak megah, belum permanen, tapi cukup untuk mengembalikan aktivitas yang lama terhenti. Di atasnya, langkah-langkah kecil warga kembali terdengar. Sebuah tanda bahwa kehidupan mulai pulih.

Menariknya, pembangunan ini bukan lahir dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari peluh dan kayuhan sepeda dalam program “Putar Roda Jemput Aspirasi”. Dari sanalah laporan kerusakan jembatan ini sampai ke telinga bupati, menjadi bukti bahwa kebijakan bisa lahir dari jalanan, bukan hanya dari meja kekuasaan.

“Di tengah tekanan efisiensi anggaran, kami tetap memilih mendengar rakyat. Aspirasi Kampuang Dama tidak bisa ditunda,” tegas John Kenedy Azis, dengan nada yang tak sekadar formalitas. Ia sadar, keputusan membangun di tengah keterbatasan adalah taruhan. Antara keberanian dan kritik.

Namun pekerjaan belum selesai. Bupati John Kenedy Azis secara terbuka mengakui, jembatan ini masih berstatus semi permanen.

Ia justru melempar tantangan bersama. Menjaga, merawat, dan mendorong peningkatan menjadi konstruksi permanen. Sebab tanpa itu, risiko kerusakan akan kembali mengintai.

Di sisi lain, Wali Nagari Zainal tak mampu menyembunyikan kelegaan. Sejak 2018, usulan demi usulan ia bawa, berulang kali, nyaris seperti suara yang tak didengar. Rehabilitasi 2021 gagal bertahan, hingga akhirnya pada 2025 jembatan benar-benar tak bisa dilalui. “Ini bukan sekadar proyek, ini mimpi panjang warga kami,” ucapnya lirih.

Kini mimpi itu mulai nyata, meski belum sempurna. Di atas jembatan sederhana itu, tersimpan harapan besar. Akses pendidikan yang lebih dekat, layanan kesehatan yang lebih cepat, dan roda ekonomi yang kembali berputar.

Ini merupakan sebuah pengingat bahwa kadang, pembangunan bukan soal besar atau kecil. Tetapi tentang hadir di saat paling dibutuhkan.(bay).