Padang Pariaman – Di balik barisan tegap dan langkah serempak yang kelak terlihat di lapangan upacara, ada proses panjang yang tak semua orang mampu melewatinya. Di Hall Saiyo Sakato, Senin (6/4/2026), seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat resmi dimulai. Ini sebuah pintu awal menuju kehormatan, sekaligus ujian mental bagi ratusan pelajar.
Sebanyak 212 peserta yang lolos administrasi dari total 271 pendaftar kini bersiap menghadapi tahapan seleksi yang tak ringan. Mereka datang dari 29 sekolah, membawa harapan besar, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga keluarga dan daerah.
Di ruang itu, ambisi dan mimpi berdiri berdampingan, menunggu siapa yang benar-benar layak bertahan.
Wakil Bupati Padang Pariaman, Rahmat Hidayat, membuka langsung kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Paskibraka bukan sekadar rutinitas tahunan atau panggung seremonial semata. Lebih dari itu, ini adalah proses strategis untuk menempa karakter generasi muda yang akan memegang masa depan bangsa.
“Di sinilah disiplin, integritas, dan nasionalisme diuji,” tegasnya. Menurut Rahmat, menjadi anggota Paskibraka bukan hanya soal kemampuan fisik atau kecerdasan, melainkan tentang sikap, etika, dan komitmen.
“Sebab mereka yang terpilih nantinya akan mengemban peran lebih besar sebagai Duta Pancasila Paskibraka Indonesia. Ini sebuah amanah yang tak ringan,” ungkap Rahmat.
Namun, di tengah semangat itu, seleksi ini juga menjadi arena kompetisi yang ketat. Tahapan demi tahapan telah disiapkan. Mulai dari tes wawasan kebangsaan dan intelegensi, pemeriksaan kesehatan, hingga uji kesamaptaan dan kepribadian. Setiap langkah adalah penyaringan, setiap detik adalah penilaian.
Ketua panitia pelaksana, Lilis Mairizal, mengungkapkan tingginya antusiasme peserta tahun ini.
Ia memastikan proses seleksi berjalan objektif dan transparan, demi melahirkan putra-putri terbaik yang benar-benar layak mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ironisnya, di tengah euforia seleksi, hanya segelintir yang akan terpilih. Ratusan lainnya harus rela tersisih. Namun justru di situlah makna sesungguhnya. Paskibraka bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang proses pembentukan karakter yang akan melekat seumur hidup.
Rahmat Hidayat pun mengingatkan peserta untuk menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas. Ia menekankan, kekuatan sejati bukan hanya pada fisik, tetapi pada mental dan integritas. Sebab bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kekurangan mereka yang berkarakter.
Seleksi ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari. Waktu yang singkat, tetapi cukup untuk menguji siapa yang benar-benar siap berdiri tegak membawa Merah Putih. Pada akhirnya, yang terpilih bukan hanya yang paling kuat, tetapi yang paling siap mengemban tanggung jawab untuk bangsa, untuk daerah, dan untuk dirinya sendiri.(bay).






