Honda Hidupkan Kembali Divisi R&D Klasik untuk Mengejar Inovasi

Perubahan strategi Honda tidak lepas dari tekanan kuat dari produsen mobil China yang bergerak lebh cepat.
Perubahan strategi Honda tidak lepas dari tekanan kuat dari produsen mobil China yang bergerak lebh cepat.

JakartaHonda Motor Company kembali mengadopsi strategi klasik dengan menghidupkan kembali divisi riset dan pengembangan (R&D) semi-independen. Langkah ini muncul setelah perusahaan membatalkan rencana pengembangan kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat.

Keputusan ini menandai perubahan besar dalam arah strategis Honda. Para insinyur kini bekerja dalam struktur yang lebih longgar, menyerupai pendekatan perusahaan pada era 1960-an.

Pada masa itu, Honda memisahkan divisi R&D sebagai unit independen, memberi para insinyur kebebasan untuk mengeksplorasi teknologi tanpa campur tangan manajemen secara langsung. Pendekatan ini membuahkan inovasi penting, termasuk pengembangan mesin ramah lingkungan CVCC pada awal 1970-an yang menjadi salah satu faktor kesuksesan Honda Civic di pasar Amerika Serikat.

Namun, pada 2020 filosofi tersebut sempat ditinggalkan. Honda memusatkan pengembangan kendaraan dalam satu sistem terpadu untuk mempercepat produksi dan menyederhanakan struktur organisasi. Kini, perusahaan menilai bahwa memberi kebebasan inovasi lebih efektif dibanding sistem yang terlalu kaku.

Tekanan dari Industri Otomotif China

Perubahan strategi ini dipicu persaingan ketat dari produsen mobil China, seperti BYD dan Geely, yang mampu menghadirkan model baru jauh lebih cepat dibanding produsen Jepang. Bila produsen Jepang butuh beberapa tahun untuk meluncurkan kendaraan baru, para pesaing China mampu melakukannya hanya dalam 18 bulan.

Kecepatan ini didukung oleh integrasi teknologi perangkat lunak canggih dan pabrik otomatis yang efisien, sehingga biaya produksi lebih rendah dan proses pengembangan lebih cepat.

CEO Honda, Toshihiro Mibe, bahkan mengakui keunggulan industri otomotif China setelah kunjungan ke sejumlah pemasok di negara tersebut. “Kita tidak punya peluang melawan ini,” ujar Mibe, seperti dilaporkan Nikkei Asia.

Data penjualan pun menunjukkan tekanan ini nyata. Pada 2025, penjualan Honda di China menurun hingga 24 persen, membuat beberapa pabrik beroperasi di bawah kapasitas optimal dan memaksa pengurangan rencana pengembangan model baru.

Perbedaan Strategi dengan Toyota dan Nissan

Sementara Toyota dan Nissan memilih menjalin kerja sama dengan mitra lokal China untuk mempercepat pengembangan kendaraan listrik dan teknologi baru, Honda justru menekankan inovasi dari dalam dengan menghidupkan kembali budaya R&D klasik.

Langkah ini berisiko, namun Honda yakin dapat memunculkan terobosan teknologi seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Selain itu, perusahaan menyiapkan strategi global baru dengan menempatkan India sebagai pusat produksi EV generasi berikutnya, memanfaatkan biaya produksi yang lebih rendah dan ekosistem industri yang berkembang. Model EV global baru direncanakan meluncur menjelang akhir dekade ini, diharapkan menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Meski begitu, sejumlah analis menilai langkah ini belum tentu mampu sepenuhnya mengejar ketertinggalan dari produsen otomotif China yang terus berkembang cepat. Kini, pertanyaan terbesar adalah apakah kebangkitan filosofi R&D era 1960-an dapat mengembalikan Honda sebagai pionir inovasi otomotif.(BY)