Mendes Yandri Susanto di Pariaman Tegaskan Desa Jangan Lagi Jadi Penonton!

Kota Pariaman – Di tengah debu tanah Dusun Sirambang yang beterbangan, sebuah pesan keras menggema. Desa tak boleh lagi sekadar jadi penonton. Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto datang bersama rombongan elite Anggota DPR RI Arisal Azis, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, hingga Wali Kota Pariaman Yota Balad membawa lebih dari sekadar seremoni.

Di Dusun Sirambang, Cunbadak Aia Utara, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (4/4/2026) itu berubah menjadi panggung besar janji negara kepada desa-desa yang selama ini kerap dilupakan

Namun bukan sekadar kata-kata. Satu juta bibit kelapa, satu juta bibit pinang, hingga mesin perontok gabah diserahkan. Seolah menjadi simbol harapan yang ditanam hari ini untuk panen masa depan. Bantuan itu bukan angka, melainkan pertaruhan. Apakah desa benar-benar akan bangkit, atau kembali tenggelam dalam janji lama?

Di sela sorotan kamera, Yandri Susanto dalam sambutannya menegaskan dengan nada tajam. “Desa harus menjadi aktor utama ketahanan pangan,” kata Mendes PDT itu.

Teknologi, sebutnya, bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Mesin perontok itu bukan sekadar alat, melainkan ujian. Mampukah petani keluar dari lingkaran stagnasi yang selama ini membelenggu?

Tak jauh dari lokasi pembagian bantuan, tanah lain digali. Batu pertama diletakkan. Sebuah masjid dan pondok pesantren Al Aziz mulai dirancang berdiri. Bukan hanya sebagai bangunan, tetapi simbol perlawanan terhadap krisis moral yang diam-diam menggerus generasi muda.

Di titik itu, Anggota DPR RI Arisal Azis berbicara lebih emosional. Ia menyebut pertanian sebagai urat nadi bangsa, dan desa sebagai jantungnya. Menurutnya, bibit dan mesin bukan bantuan biasa, melainkan “alat perjuangan” agar anak petani tak lagi mewarisi kemiskinan.

Ia bahkan menaruh mimpi besar dari tanah Pariaman, lahir generasi yang religius, cerdas, dan berprestasi di lapangan hijau.

Nada optimisme juga datang dari Gubernur Mahyeldi Ansharullah. Ia menyebut bibit kelapa dan pinang sebagai investasi jangka panjang, sekaligus pertaruhan masa depan ekonomi daerah.

Namun ia tak menutup mata. Tantangan zaman bukan hanya soal ekonomi, tapi juga moral.

Pesantren, kata Gunernur Mahyeldi, harus melahirkan santri yang tak hanya paham agama, tetapi juga mampu membangun desa dengan pikirannya.

Sementara itu, Walikotab) Yota Balad melihat momen ini sebagai sejarah yang tak boleh gagal. Josal FC Academy yang dirintis bukan sekadar proyek olahraga, melainkan eksperimen besar. Menyatukan sepak bola, pendidikan, dan nilai keagamaan dalam satu napas.

Ia percaya, dari Dusun Sirambang, akan lahir model baru pembangunan yang tak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga membentuk karakter.

Kini, semua mata tertuju ke Pariaman. Bantuan sudah turun. Fondasi sudah diletakkan. Tapi satu pertanyaan menggantung. Akankah desa benar-benar bangkit, atau semua ini hanya akan menjadi cerita lama yang kembali terulang? (mak).